Rabu, 17 September 2014

Hallo world, I'm Juan

Akhirnya setelah sekian lama, bisa nongol juga... #bersih-bersih rumah dulu...Lama tak menulis, ternyata membuat saya jadi lamban juga berpikir, tidak tau mau menulis apa.Ah, pokoknya saya  ingin mengenalkan seorang makhluk mungil, anggota baru keluarga kami.

"Hallo, kenalin saya Juan Huwae... Saya belum punya nama tengah, soalnya mama & papa masih bingung menentukan nama tengah yang pas buat saya... Hehee.. Ada yang mau bantu? Saya lahir tgl 14 September kemarin. Sudah 2 minggu lebih.. Cowok lho, jadi pas deh mama & papa sudah punya sepasang putri dan putra. Udah dulu ya, saya mau bobo.... :) "

Sekilas cerita kelahiran si Nyong (panggilan buat anak lelaki orang Ambon) : 
Hari Jumat pagi, tanggal 12 September 2014 saya terbangun dengan perasaan aneh, pantas saja, ternyata saya agak basah karena ada lendir yang keluar. Tapi karena tidak merasa sakit, saya santai saja. Saya ke kamar mandi membersihkan diri, dan memakai pembalut. Teringat dulu anak pertama si Wilda juga begitu. Karena belum tau apa2 waktu itu, saya dan suami panik sehingga terburu-buru ke Rumah Sakit. Padahal sampai sana malah di suruh pulang lagi. Tak ingin kejadian tersebut terulang, saya jadi merasa tak perlu membangunkan suami agar dia tak panik.
Saya melewati hari itu seperti hari-hari lainnya. Memang saya sudah tak ke kantor, meski jadwal cuti masih minggu depan. (bolos nih ceritanya...) Saya memang mengatur agar jadwal cuti bertepatan dengan HPL yang kata dokter tanggal 15 September agar bisa punya waktu lebih lama mengurus si baby nantinya. Menjelang sore hari sudah terasa agak sakit sedikit. Tapi saya pikir itu masih kontraksi palsu. Ah, nanti sajalah biar sakit betulan baru ke RS kata saya menahan-nahan. Jam 8 malam setelah pekerjaan di Apotek selesai, akhirnya kami memutuskan ke RS saja. Belum terlalu sakit sih, tapi saya merasa sudah ada kontraksi. Kami memilih RS xx Sorong karena rekomendasi dari teman yang sebelumnya melahirkan di situ. Katanya pelayanannya bagus, dan lagi dokter kandungan tempat saya periksa selama ini prakteknya di RS itu, dan yang paling penting kerjasama dengan BPJS. Kan lumayan mengurangi biaya.. hehehe..

Tiba di RS, saya diperiksa bidan. Karena ruangan penuh, saya malah diperiksa di ruangan tempat USG. Nah lho....??!??? Mana lampu di ruangan itu mati. jadi hanya dengan penerangan dari ruangan sebelah, si bidan bilang kalau pembukaan belum apa2. Baru 1, jadi mending pulang sajalah, apalagi ruangan penuh. Tidak ada tempat pokoknya. Jadilah kami kembali pulang. Padahal jarak RS tersebut lumayan jauh juga... :(

Meski dengan menahan-nahan rasa sakit yang mulai muncul sedikit demi sedikit, apalagi karena di tambah dengan guncangan dalam mobil, saya pasrah sajalah, pulang ke rumah. Mungkin memang belum waktunya si Nyong lahir. Tepat ketika kami melewati sebuah RS, yang mana tempat Wilda dulu lahir, ipar saya yang kebetulan ikut mengantar ke RS menerima telepon dari keluarga katanya ada yang lagi sakit muntah-muntah dan akan di bawa ke RS. Jadi kami memutuskan untuk menunggu mereka di RS tersebut saja. Beberapa menit berselang kembali mereka menelpon bahwa si sakit di bawa ke klinik dekat rumah saja, gak jadi ke RS. Kamipun berpacu kembali pulang ke rumah. Baru juga beberapa menit kemudian tiba-tiba telepon kembali berdering menyatakan bahwa si sakit sudah meninggal. Kami yang sebelumnya sempat tertawa bercanda-canda dalam mobil langsung terdiam. Tidak ada yang mampu berkata-kata.. Nah lho, cuma muntah-muntah kok bisa langsung meninggal.

Perasaan bingung menerpa, sepanjang jalan kami tak banyak bicara. Pulang ke rumah, dan langsung menuju ke klinik yang di maksud. Segera suami dan ipar beserta beberapa orang lainnya mengurus jenazah untuk di bawa pulang ke rumah. Dan saya tiba- tiba teringat sang istri yang tidak kelihatan. Istrinya lebih muda dari saya dan merupakan teman baik saya. Ketika saya tanyakan pada adiknya, katanya dia ada lari ke gereja. Ternyata dia ingin protes pada Tuhan kena suaminya di renggut secara tiba tiba. Karena kondisi saya, suami tak mengijinkan ikut ke rumah duka dan menyuruh untuk istirahat saja di rumah. Namun ya sama saja, namanya keadaan duka begitu, pastinya susah tidur. Alhasil saya tak tidur semalaman itu.
Esoknya saya ikut ibadah untuk pemberangkatan jenazah ke Ambon. Saya hampiri istrinya dan dengan sedihnya dia mulai berbicara tentang segala hal. Sungguh kehilangan yang begitu berat harus ditanggungnya. Saya sendiri tak mampu membayangkan jika berada di posisinya. Sungguh kasihan, apalagi mengingat anak anaknya yang masih kecil-kecil bahkan yang terakhir baru.berusia.4 bulan.
Bersama beberapa keluarga, jenazah kemudian diberangkatkan ke Ambon untuk dimakamkan di sana.

Malam menjelang, dan saya mencoba tidur. Namun tengah malam kembali saya merasa kontraksi kembali terjadi. Oh ya, karena kejadian duka tersebut, perut saya yang tadinya sakit tiba tiba saja rasa sakitnya menghilang.

Setengah dua saya menahan sakit namun tak berani membangunkan suami. Saya biarkan saja kontraksi tersebut sambil.menghitung waktu antara kontraksi. Hingga pukul 5 pagi saya baru.berani membangunkan suami agar segera bersiap ke RS.
Pukul 6 saya diperiksa dan seperti biasa disarankan untuk berjalan jalan dulu. Waktu terus bergulir hingga pukul setengah dua siang barulah si kecil nongol. Tak perlu saya ceritakan bagaimana prosesnya, yang penting semua berjalan normal. Meski karena terlalu lama, suami hampir saja menyarankan untuk operasi tapi saya keukeh untuk normal saja karena saya merasa masih mampu.

Ah... perjuangan berat itu akhirnya berbuah manis...
Welcome baby boy...






Tidak ada komentar:

Posting Komentar