PENDAHULUAN
Tuberkulosis
adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (M. Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ
tubuh lainnya.
Kuman TB berbentuk batang, mempunyai sifat khusus
yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan, oleh karena itu disebut pula sebagai
Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung,
tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam
jaringan tubuh kuman ini dapat dormant,
tidur lama selama beberapa tahun.
Sumber penularan
adalah pasien TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan
kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada
suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut
terhirup ke dalam saluran napas. Setelah kuman TB
masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernapasan, ia dapat menyebar dari paru
kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran getah
bening atau menyebar langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.
Daya penularan dari seorang pasien ditentukan oleh
banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif
hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut. Kemungkinan seseorang
terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet
dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.
Sejak tahun 1993, WHO menyatakan bahwa TB merupakan kedaruratan global
bagi kemanusiaan. Walaupun strategi DOTS telah terbukti sangat efektif untuk
pengendalian TB, tetapi beban penyakit TB di masyarakat masih sangat tinggi.
Dengan berbagai kemajuan yang dicapai sejak tahun 2003, diperkirakan masih
terdapat sekitar 9,5 juta kasus baru TB, dan sekitar 0,5 juta orang meninggal akibat
TB di seluruh dunia (WHO, 2009). Selain itu, pengendalian TB mendapat tantangan
baru seperti ko-infeksi TB/HIV, TB yang resisten obat dan tantangan lainnya dengan
tingkat kompleksitas yang makin tinggi. Dokumen Strategi Nasional Pengendalian
TB di Indonesia 2011-2014 ini disusun dengan konsultasi yang intensif dengan
para pemangku kepentingan di tingkat nasional dan provinsi serta mengacu pada:
(1) kebijakan pembangunan nasional 2010-2014;
bagi kemanusiaan. Walaupun strategi DOTS telah terbukti sangat efektif untuk
pengendalian TB, tetapi beban penyakit TB di masyarakat masih sangat tinggi.
Dengan berbagai kemajuan yang dicapai sejak tahun 2003, diperkirakan masih
terdapat sekitar 9,5 juta kasus baru TB, dan sekitar 0,5 juta orang meninggal akibat
TB di seluruh dunia (WHO, 2009). Selain itu, pengendalian TB mendapat tantangan
baru seperti ko-infeksi TB/HIV, TB yang resisten obat dan tantangan lainnya dengan
tingkat kompleksitas yang makin tinggi. Dokumen Strategi Nasional Pengendalian
TB di Indonesia 2011-2014 ini disusun dengan konsultasi yang intensif dengan
para pemangku kepentingan di tingkat nasional dan provinsi serta mengacu pada:
(1) kebijakan pembangunan nasional 2010-2014;
(2) dokumen strategi dan rencana
global dan regional; dan
global dan regional; dan
(3) evaluasi perkembangan program TB di Indonesia
.....................(di kutip dari Strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia)
DIAGNOSA
TB adalah penyakit
menular yang berbahaya. Setiap pasien TB dapat menularkan kepada 10-15 orang per
tahun yang berada di sekitarnya melalui percikan dahak. Mengingat pentingnya
penanggulangan penyakit ini, maka petugas kesehatan diharapkan dapat menemukan
suspek TB sedini mungkin untuk diperiksa dan diobati sampai sembuh.
Bila ditemukan
pasien TB dewasa (terutama dengan BTA positif) harus dilakukan pelacakan
terutama terhadap anak-anak yang kemungkinan sudah terinfeksi (lacak sentrifugal),
sedangkan bila menemukan pasien TB anak, harus dilakukan pelacakan sumber
penularannya (lacak sentripetal).
Pada orang
dewasa, diagnosis TB paru ditegakkan dengan ditemukannya Basil Tahan Asam (BTA)
pada pemeriksaan mikroskopik dahak, sedangkan pada anak, didasarkan pada
ditemukannya beberapa gejala atau tanda pada beberapa pemeriksaan.
Untuk Anak, pada
Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) dengan fasilitas terbatas dapat digunakan sistim
skoring yang telah direkomendasikan IDAI sebagai alat bantu untuk menegakkan
diagnosis TB Anak. Untuk Rumah Sakit dengan fasilitas diagnostik lebih lengkap,
sistem skoring dapat digunakan sebagai sarana penjaringan awal (entry point), namun jangan digunakan
sebagai sarana diagnosis akhir (end
point).
Setelah ditetapkan
diagnosis TB pada seorang pasien, perlu ditentukan klasifikasi penyakit dan
tipe pasien. Klasifikasi penyakit dan tipe pasien ini digunakan untuk
menentukan jenis paduan obat yang sesuai.
Tersangka / Suspek TB
BUKAN PASIEN ODHA
|
PADA PASIEN ODHA
|
q Gejala Utama Batuk berdahak 2-3
minggu
q Gejala Tambahan :
§
Dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas
dan rasa nyeri dada
§
Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan
turun, rasa kurang enak badan (malaise),
berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari se bulan
|
q Penurunan BB > 10 Kg atau > 20 Kg
q Demam meriang lebih dari sebulan
q Batuk 2-3 minggu atau lebih
q Pembesaran kelenjar getah bening
q Berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan
Bila ada salah satu
gejala diatas bisa dianggap tersangka/suspek TB
|
Gejala tersebut diatas
dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB, seperti Bronkiektasi,
Bronkitis kronis, Asma, Kanker Paru dll. Mengingat Prevalensi TB di Indonesia
saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke Fasilitas Pelayanan
Kesehatan (Fasyankes) dengan gejala diatas, dianggap sebagai seorang tersangka
(suspek) TB dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.
Pemeriksaan dahak
berfungsi untuk :
§
Menegakkan diagnose
§
Menilai keberhasilan pengobatan dan
§
Menentukan potensi penularan
Pemeriksaan dahak
untuk menegakkan diagnose dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang
dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa dahak Sewaktu-pagi-Sewaktu (SPS) :
·
S (Sewaktu), dahak dikumpulkan pada saat
suspek TB datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang suspek membawa
sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua
·
P (Pagi), dahak
dikumpulkan dirumah pasa pagi harikedua, segera setelah bangun tidur (bila
malam hari suspek TB sering bangun karena batuk, sebaiknya dahaknya ditampung).
Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK (Lab)
·
S (Sewaktu), dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan pot
dahak pagi
KLASIFIKASI PENYAKIT DAN
TIPE PASIEN
·
Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien
tuberkulosis memerlukan suatu “definisi kasus” yang meliputi empat hal , yaitu:
o
Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra
paru;
o Bakteriologi
(hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis) : BTA positif atau BTA negatif;
o
Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat.
o
Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah
diobati
·
Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah
o
Menentukan paduan pengobatan yang sesuai
o
Registrasi
kasus secara benar
o
Menentukan prioritas pengobatan TB BTA positif
o
Analisis
kohort hasil pengobatan
·
Beberapa istilah dalam definisi kasus:
o
Kasus
TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh dokter.
o
Kasus
TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium
tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan, sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA
positif.
·
Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori
diagnostik sangat diperlukan untuk
o
menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah timbulnya resistensi,
o
menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan
pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective)
o
mengurangi efek samping.
Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:
· Tuberkulosis paru. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.
· Tuberkulosis ekstra paru. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.
Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, yaitu
pada TB Paru:
·
Tuberkulosis paru BTA positif.
o
Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya
BTA positif.
o
1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks
dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.
o 1
spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.
o 1
atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada
pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah
pemberian antibiotika non OAT.
· Tuberkulosis paru BTA negatif
Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif.
Kriteria
diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi:
o
Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif
o
Foto toraks
abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.
o
Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non
OAT.
o
Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi
pengobatan.
Klasifikasi
berdasarkan tingkat keparahan penyakit
·
TB paru BTA negatif foto
toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu
bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila gambaran foto
toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”), dan atau keadaan
umum pasien buruk.
·
TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan
penyakitnya, yaitu:
o TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
o TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih dan alat kelamin.
Catatan:
·
Bila seorang pasien TB paru juga mempunyai TB ekstra
paru, maka untuk kepentingan pencatatan, pasien tersebut harus dicatat
sebagai pasien TB paru.
·
Bila seorang pasien dengan TB
ekstra paru pada beberapa organ, maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang
penyakitnya paling berat.
Tipe Pasien TB :
Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada beberapa tipe pasien yaitu:
1. Kasus Baru
Kasus baru adalah pasien
yang belum pernah diobati
dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.
2. Kambuh (Relaps)
Kasus kambuh (relaps)
adalah pasien TB yang sebelumnya pernah
mendapat pengobatan TB dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan
lengkap, kemudian didiagnosis kembali dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif (sediaan
apus atau biakan).
3. Kasus lalai berobat (Default)
Kasus lalai berobat
(default) adalah pasien yang telah
berobat satu bulan atau lebih dan putus
berobat selama 2 bulan atau lebih, datang lagi dengan hasil pemeriksaan dahak
BTA positif.
4. Kasus Gagal
Kasus gagal adalah:
1) Pasien
yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi
positif pada 1 bulan
sebelum akhir pengobatan atau pada akhir pengobatan (AP).
2) Pasien BTA negatif dengan hasil foto toraks menggambarkan proses spesifik TB, setelah diobati sampai
dengan akhir tahap
awal hasil pemeriksaan dahaknya
menjadi BTA positif.
5. Kasus Pindahan (Transfer In)
Kasus pindahan
(transfer in) adalah pasien yang dipindahkan
dari Sarana Pelayanan Kesehatan
atau kabupaten/kota yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya
di kabupaten/kota yang sekarang.
6. Lain-lain:
Adalah semua kasus
TB yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam
kelompok ini termasuk TB
Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan dahak ulang masih tetap BTA positif sampai dengan
selesainya pengobatan ulang (dengan kategori 2).
PENGOBATAN
Pengobatan
TB bertujuan:
- Menyembuhkan pasien,
- Mencegah kematian,
- Mencegah kekambuhan,
- Memutuskan rantai penularan,
- Mencegah terjadinya kekebalan terhadap OAT dan
- Mengurangi dampak sosial dan ekonomi.
Prinsip
Pengobatan
Pengobatan TB dilakukan dengan
prinsip-prinsip sebagai berikut:
- OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Hindari penggunaan monoterapi. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (KDT) akan lebih menguntungkan dan dianjurkan.
- Untuk menjamin kepatuhan pasien dalam menelan obat, pengobatan dilakukan dengan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
- Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap awal dan lanjutan.
Tahap awal
o
Pada
tahap awal pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung
untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.
o
Bila pengobatan tahap awal tersebut diberikan secara
tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2
minggu.
o
Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA
negatif (konversi) dalam 2 bulan.
Tahap lanjutan
o Pada tahap lanjutan
pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih
lama.
o Tahap lanjutan
penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
A.
JENIS OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT)
OAT yang
digunakan Program Penanggulangan TB saat ini adalah obat lini pertama, yang
terdiri dari:
- Isoniasid / INH (H)
o Bersifat bakterisid, dapat membunuh 90% populasi kuman dalam beberapa hari
pertama pengobatan.
o Obat ini sangat efektif terhadap kuman yang sedang berkembang.
o Dosis harian yang dianjurkan 5 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan tahap
lanjutan 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg/kg BB.
- Rifampisin (R)
o Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman persister yang tidak dapat
dibunuh oleh Isoniasid.
o Dosis 10 mg/kg BB diberikan sama untuk pengobatan harian maupun tahap
lanjutan 3 kali seminggu.
- Pirazinamid (Z)
o Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan
suasana asam.
o Dosis harian yang dianjurkan 25 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan tahap
lanjutan 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kg BB.
- Streptomisin (S)
o
Bersifat
bakterisid.
o
Pasien berumur
sampai 60 tahun
dosisnya 0,75 g/hari, sedangkan untuk berumur 60 tahun atau lebih
diberikan 0,50 g/hari.
- Etambutol (E)
o
Bersifat
sebagai bakteriostatik.
o
Dosis
harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB sedangkan untuk pengobatan tahap lanjutan 3
kali seminggu digunakan dosis 30 mg/kg BB.
Tabel-1: Jenis, sifat dan dosis OAT
Jenis OAT
|
Sifat
|
Dosis yang
direkomendasikan (mg/kg BB)
|
|
Harian
|
3 x seminggu
|
||
Isoniasid
(H)
|
Bakterisid
|
5
(4-6)
|
10
(8-12)
|
Rifampisin
(R)
|
Bakterisid
|
10
(8-12)
|
10
(8-12)
|
Pirazinamid
(Z)
|
Bakterisid
|
25
(20-30)
|
35
(30-40)
|
Streptomisin
(S)
|
Bakterisid
|
15
(12-18)
|
|
Etambutol
(E)
|
Bakteriostatik
|
15
(15-20)
|
30
(20-35)
|
Tabel-2: Dosis Obat Anti Tuberkulosis pada anak
Nama Obat
|
Dosis harian
(mg/kgBB/hari)
|
Dosis maksimal (mg per hari)
|
Efek samping
|
Isoniazid
|
5−15*
|
300
|
hepatitis,
neuritis perifer, hipersensitivitas
|
Rifampisin**
|
10−20
|
600
|
gastrointestinal,
reaksi kulit, hepatitis, trombositopenia, peningkatan enzim hati, cairan
tubuh berwarna oranye kemerahan
|
Pirazinamid
|
15−30
|
2000
|
toksisitas
hati,
artralgia, gastrointestinal
|
Etambutol
|
15−20
|
1250
|
neuritis
optik, ketajaman mata berkurang, buta warna
merah-hijau, penyempitan lapang pandang,
hipersensitivitas, gastrointestinal
|
Streptomisin
|
15−40
|
1000
|
ototoksik,
nefrotoksik
|
Catatan:
* Bila isoniazid dikombinasikan dengan
rifampisin, dosisnya tidak boleh melebihi 10 mg/kgBB/hari.
** Rifampisin
tidak boleh diracik dalam satu puyer dengan OAT lain karena dapat mengganggu
bioavailabilitas rifampisin.
Rifampisin diabsorpsi dengan baik melalui sistem gastrointestinal pada saat
perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan).
B.
PADUAN
OBAT ANTI TUBERKULOSIS STANDAR
Penulisan Kode Paduan Obat
Masing-masing
obat memiliki singkatan seperti ditulis pada tabel diatas. Paduan pengobatan TB terdiri dari 2 tahap,
yaitu tahap awal dan tahap lanjutan.
Paduan pengobatan TB mempunyai kode standar yang
menunjukkan:
- Tahap pengobatan,
- Lama pengobatan,
- Jenis OAT,
- Cara pemberian (harian atau 3 x seminggu) dan
- Paduan OAT, misalnya: Kategori 1 KDT: 2 (HRZE)/4 (HR)3
o Garis miring menunjukkan pemisahan tahapan pengobatan
o Angka 2 dan 4 menunjukkan lama tahap dalam bulan.
o Huruf dalam tanda kurung menunjukkan OAT-Kombinasi Dosis Tetap (KDT)
o Jika tanpa tanda kurung berarti OAT lepas atau kombipak.
o Angka setelah huruf atau tanda kurung menunjukkan jumlah dosis obat per
minggu.
o Jika tidak ada angka setelah huruf atau tanda kurung menunjukkan pengobatan
dilakukan setiap hari.

Tabel
3: Paduan pengobatan standar yang
direkomendasikan WHO (Treatment of Tuberculosis: Guideline for National
Program, WHO, 2003).
Kategori Diagnosis TB
|
Pasien TB
|
Paduan OAT
|
|
Tahap awal
(harian atau 3 x seminggu)a
|
Tahap lanjutan
(harian atau 3 x
seminggu) a
|
||
I
|
·
TB paru kasus baru
·
TB paru BTA negatif kasus baru dengan lesi luas
·
TB berat + HIV atau TB
ekstraparu berat
|
2 HRZE b
|
4H3R3 atau
4 HR c
|
II
|
TB paru BTA positif
dengan pengobatan terdahulu :
·
Kasus kambuh
·
Kasus putus berobat
·
Kasus gagal d
|
2 HRZES/ 1 HRZE
|
5 H3R3E3 atau 5 HRE
|
III
|
TB paru BTA negatif
kasus baru (selain kategori 1)
TB ekstraparu ringan
|
2 HRZE e
|
4H3R3 atau
4 HR
atau
6 H3E3 atau 6 HE c
|
IV
|
Kasus kronik atau MDR
(BTA masih positif setelah pengobatan ulang yang diawasi) f
|
|
Catatan:
a.
Pemakaian OAT harian pada
tahap awal dan 3 x seminggu atau harian pada tahap lanjutan disesuaikan dengan
kebijakan pada masing masing negara.
b.
Streptomisin dapat
diberikan bersamaan dengan Etambutol. Pada Meningitis TB, Etambutol diganti dg
Streptomisin.
c.
Bagi pasien yang gagal
dan kambuh setelah pengobatan selama 6 bulan, disarankan melanjutkan
pengobatannya dengan KDT sesuai yg direkomdasikan.
d.
Jika memungkinkan, dapat
dilakukan uji kepekaan obat sebelum memulai pengobatan Kategori 2 terutama pada
kasus gagal, bila hasilnya terbukti MDR TB disarankan pada pasien tersebut
menggunakan pengobatan Katagori 4.
e.
Etambutol dapat
diabaikan selama pengobatan tahap awal untuk pasien tanpa kavitas, pasien TB
paru BTA negatif yang HIV negatif, pasien TB bukan pasien MDR, dan anak-anak
dengan TB primer.
f.
Semua kontak dengan MDR
TB dianjurkan untuk melakukan biakan dan uji kepekaan.
Paduan OAT yang digunakan di Indonesia
- Paduan pengobatan KDT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan TB di Indonesia:
o
Kategori
1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
o Kategori 2 :
2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
o
Kategori
Anak* : 2(HRZ)/4(HR)
Di samping ketiga
kategori ini, ada paduan obat sisipan (HRZE).
Tablet OAT KDT ini terdiri dari
kombinasi 4 atau 2 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat
badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien.
- Paket Kombipak.
Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu blister
harian, yaitu Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol. Paduan OAT ini masih
disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.
Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket, dengan tujuan untuk
memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan
sampai selesai. Satu (1) paket untuk
satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan.
Catatan:
*Pada TB anak yang berat, misalnya TB milier, meningitis, spondilitis dan lainnya, ditambahkan Etambutol
dan/atau Streptomisin pada tahap awal. Tahap lanjutan diteruskan sampai 9-12
bulan.
OAT KDT
OAT KDT adalah
obat dalam bentuk kaplet dan tablet yang isinya terdiri dari kombinasi beberapa
jenis obat dengan dosis tertentu.
Dibandingkan
dengan bentuk obat yang tidak dikombinasi atau bentuk lepas, OAT KDT mempunyai
beberapa keuntungan dalam pengobatan TB, yaitu:
1. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan
sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping.
2. Mencegah penggunaan obat tunggal sehingga menurunkan
risiko terjadi resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep.
3. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit
sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien.
Jenis OAT KDT
Jenis-jenis OAT
KDT untuk dewasa:
- Kaplet 4KDT: kaplet yang mengandung 4 macam obat.
Setiap kaplet mengandung:
o
75
mg Isoniasid,
o
150
mg Rifampisin,
o
400
mg Pirazinamid dan
o
275
mg Etambutol.
Kaplet ini
digunakan untuk pengobatan setiap hari dalam tahap awal dan untuk sisipan.
Jumlah kaplet yang digunakan disesuaikan dengan berat badan pasien.
- Tablet 2KDT: tablet yang mengandung 2 macam obat.
Setiap tablet
mengandung:
o
150
mg Isoniasid,
o
150
mg Rifampisin.
Tablet ini
digunakan untuk pengobatan tahap lanjutan yang diberikan 3 kali seminggu (tidak
sesuai untuk digunakan sebagai dosis harian). Jumlah tablet yang digunakan disesuaikan
dengan berat badan pasien pada awal pengobatan.
Untuk pengobatan
paduan OAT Kategori 2, dilengkapi dengan:
o
Tablet
Etambutol 400 mg,
o Streptomisin injeksi
vial 1 g dan
o
Aquabidestilata.
C.
PADUAN
OAT DAN PERUNTUKANNYA
- Kategori-1 KDT: 2(HRZE)/ 4(HR)3
Paduan OAT ini diberikan untuk:
·
Pasien baru TB paru BTA Positif,
·
Pasien TB paru BTA negatif disertai foto toraks dengan
gambaran proses spesifik dan
·
Pasien
TB ekstraparu .
Tabel-4: Dosis Kategori 1 KDT
Berat Badan
|
Tahap Awal
setiap hari
(56 dosis)
|
Tahap Lanjutan
3 kali seminggu
Selama 16 minggu (48 dosis)
|
30 – 37 kg
|
2 kaplet
4KDT
|
2 tablet 2KDT
|
38 – 54 kg
|
3 kaplet
4KDT
|
3 tablet 2KDT
|
55 – 70 kg
|
4 kaplet
4KDT
|
4 tablet 2KDT
|
≥ 71 kg
|
5 kaplet
4KDT
|
5 tablet 2KDT
|
- Kategori 2 KDT: 2(HRZE)S/ (HRZE)/ 5(HR)3E3
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA
positif yang telah diobati sebelumnya:
·
Pasien
kambuh,
·
Pasien
gagal dan
·
Pasien
dengan pengobatan setelah default
(terputus).
Tabel-5: Dosis Kategori 2 KDT
Berat Badan
|
Tahap Awal
setiap hari
|
Tahap Lanjutan
3 kali seminggu selama 20 minggu (60 dosis)
|
|
56 dosis
|
28 dosis
|
||
30–37 kg
|
2 kaplet 4KDT
+ 500 mg Streptomisin inj.
|
2 kaplet 4KDT
|
2
tab 2KDT
+
2 tab Etambutol
|
38–54 kg
|
3 kaplet 4KDT
+ 750 mg Streptomisin
inj.
|
3 kaplet 4KDT
|
3
tab 2KDT
+
3 tab Etambutol
|
55–70 kg
|
4 kaplet 4KDT
+ 1000 mg Streptomisin inj.
|
4 kaplet 4KDT
|
4
tab 2KDT
+
4 tab Etambutol
|
≥ 71 kg
|
5 kaplet 4KDT
+ 1000mg Streptomisin inj.
|
5 kaplet 4KDT
|
5
tab 2KDT
+
5 tab Etambutol
|
Catatan:
Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis
maksimal untuk streptomisin adalah 500mg.
Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan
menambahkan aquabidest sebanyak 3,7ml sehingga menjadi 4ml. (1ml = 250mg)
- OAT Sisipan KDT (HRZE)
Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap awal
kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari).
Tabel-6: Dosis Sisipan KDT
Berat Badan
|
Pemberian setiap hari selama 28 hari (28 dosis)
|
30 – 37
kg
|
2 kaplet
4KDT
|
38 – 54
kg
|
3 kaplet
4KDT
|
55 – 70
kg
|
4 kaplet
4KDT
|
≥ 71 kg
|
5 kaplet
4KDT
|
Penggunaan OAT lini
kedua misalnya golongan Amikasin (misalnya Kanamisin) dan golongan fluorokinolon
tidak dianjurkan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi
obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lini pertama. Di samping itu dapat
juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lini kedua.
- Kategori Anak (2RHZ/ 4RH)
Prinsip dasar
pengobatan TB adalah minimal 3 macam
obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. OAT pada anak diberikan setiap hari, baik pada tahap awal
maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak.
Tabel-7: Dosis Anak Kombipak
Jenis Obat
|
BB
< 10 kg
|
BB
10 - 19 kg
|
BB
20 - 33 kg
|
Isoniasid
|
50 mg
|
100 mg
|
200 mg
|
Rifampicin
|
75 mg
|
150 mg
|
300 mg
|
Pirasinamid
|
150 mg
|
300 mg
|
600 mg
|
Tabel-8: Dosis Anak KDT
Berat Badan (kg)
|
2 bulan tiap hari
RHZ (75/50/150 mg)
|
4 bulan tiap hari
RH (75/50 mg)
|
5-9
|
1 tablet
|
1 tablet
|
10-14
|
2 tablet
|
2 tablet
|
15-19
|
3 tablet
|
3 tablet
|
20-32
|
4 tablet
|
4 tablet
|
Catatan
·
Bila
BB >33 kg, dosis disesuaikan dengan Tabel-2 di atas (perhatikan dosis
maksimal).
·
Bila BB <5 kg, tidak menggunakan OAT KDT Anak, tetapi menggunakan
obat lepas dengan dosis dihitung berdasarkan BB.
·
OAT Anak KDT tidak boleh diberikan setengah
dosis tablet.
·
Perhitungan pemberian
tablet di atas sudah memperhatikan kesesuaian dosis per kg BB.
ALUR TATALAKSANA PASIEN TB ANAK
![]() |
|
![]() |
![]() |
![]() |
||
|
|
|
Setelah pemberian
obat selama 6 bulan, OAT dihentikan dengan melakukan evaluasi baik klinis
maupun pemeriksaan penunjang lain. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata
walaupun gambaran radiologis tidak menunjukkan perubahan yang berarti, maka
pengobatan dihentikan.
Paduan therapi berbagai jenis TB Anak.
Tuberkulosis
merupakan penyakit sistemik dalam arti dapat mengenai hampir semua sistem
organ. Pada beberapa batuk klinis penyakit TB diperlukan paduan obat yang lebih
banyak dan durasi pemberian yang lebih lama. Bahkan beberapa diantaranya
memerlukan pemberian steroid yaitu Prednison dengan dosis 1-2 mg/kg.BB/hari,
selama 4-8 minggu. Tabel berikut mencantumkan variasi paduan obat dan durasi
therapi.
Tabel 8. Paduan
therapi berbagai jenis TB Anak
JENIS
TB
|
PADUAN
OBAT
|
DURASI
THERAPI
|
STEROID
PREDNISON
|
DURASI
STEROID (DOSIS PENUH)
|
TB Anak—Umum
|
2RHZ/4RH
|
6 Bln
|
-
|
-
|
TB Kelenjar Limpe
|
2RHZ/4RH
|
6 Bln
|
-
|
-
|
TB Kulit
|
2RHZ/4RH
|
6 Bln
|
-
|
-
|
Efusi Pleura
|
2RHZ/4RH
|
6 Bln
|
1-2
mg/kk.BB/hari
|
2
minggu
|
TB Milier
|
2RHZE(S)/10RH
|
12 Bln
|
1-2
mg.BB/hari
|
2 minggu
|
Meningitis TB
|
2RHZE(S)/10RH
|
12 Bln
|
1-2
mg.BB/hari
|
4
minggu
|
Perikarditis TB
|
2RHZE(S)/10RH
|
12 Bln
|
1-2
mg.BB/hari
|
4
minggu
|
TB Abdomen
|
2RHZE(S)/10RH
|
12 Bln
|
1-2
mg/kk.BB/hari
|
4
minggu
|
TB Tulang
|
2RHZE(S)/10RH
|
12 Bln
|
-
|
-
|
TB Hepar
|
2RHZE(S)/10RH
|
12 Bln
|
-
|
-
|
TB Ginjal
|
2RHZE(S)/10RH
|
12 Bln
|
-
|
-
|
Catatan :
·
Terapi fase awal
diberikan selama 12 bulan, kemudian pada fase lanjutan diberikan Isoniazid dan
rifampisin sampai 6/12 bulan sesuai durasi terapi.
·
Steroid diberikan dalam
dosis penuh dalam 2-4 minggu, kemudian dosis diturunkan bertahap (tappering
off) dalam waktu yang sama.
·
TB Abdomen yang perlu
diberi steroid adalah yang tipe asitik yaitu yang disertai Asites.
D.
PENGOBATAN
PENCEGAHAN UNTUK ANAK (Kemoprofilaksis)
Sekitar 50-60% balita yang tinggal serumah dengan pasien TB Paru BTA
positif, akan terinfeksi TB. Kira-kira 10% dari yang terinfeksi tersebut akan
sakit TB. Infeksi TB pada balita berisiko tinggi menjadi TB berat (misalnya TB meningitis atau TB milier) sehingga diperlukan pemberian kemoprofilaksis untuk
mencegah sakit TB.
Pada semua anak, terutama balita yang tinggal serumah
atau kontak erat dengan pasien TB BTA positif, perlu dilakukan pemeriksaan:
- Bila anak mempunyai gejala-gejala seperti TB harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut sesuai dengan alur deteksi dini TB anak.
- Bila anak balita tidak mempunyai gejala-gejala seperti TB (sehat), dan balita tersebut mendapat nilai <5 pada sistem pembobotan, harus diberikan pengobatan pencegahan dengan Isoniasid (INH) dengan dosis 5-10 mg per kg berat badan per hari selama 6 bulan.
Bila anak
tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG,
perlu diberi BCG setelah pengobatan
pencegahan dengan INH selesai.
Pengobatan
TB bertujuan:
- Menyembuhkan pasien,
- Mencegah kematian,
- Mencegah kekambuhan,
- Memutuskan rantai penularan,
- Mencegah terjadinya kekebalan terhadap OAT dan
- Mengurangi dampak sosial dan ekonomi.
Prinsip
Pengobatan
Pengobatan TB dilakukan dengan
prinsip-prinsip sebagai berikut:
- OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Hindari penggunaan monoterapi. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (KDT) akan lebih menguntungkan dan dianjurkan.
- Untuk menjamin kepatuhan pasien dalam menelan obat, pengobatan dilakukan dengan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
- Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap awal dan lanjutan.
Tahap awal
o
Pada
tahap awal pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung
untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.
o
Bila pengobatan tahap awal tersebut diberikan secara
tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2
minggu.
o
Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA
negatif (konversi) dalam 2 bulan.
Tahap lanjutan
o Pada tahap lanjutan
pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih
lama.
o Tahap lanjutan
penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
A.
JENIS OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT)
OAT yang
digunakan Program Penanggulangan TB saat ini adalah obat lini pertama, yang
terdiri dari:
- Isoniasid / INH (H)
o Bersifat bakterisid, dapat membunuh 90% populasi kuman dalam beberapa hari
pertama pengobatan.
o Obat ini sangat efektif terhadap kuman yang sedang berkembang.
o Dosis harian yang dianjurkan 5 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan tahap
lanjutan 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg/kg BB.
- Rifampisin (R)
o Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman persister yang tidak dapat
dibunuh oleh Isoniasid.
o Dosis 10 mg/kg BB diberikan sama untuk pengobatan harian maupun tahap
lanjutan 3 kali seminggu.
- Pirazinamid (Z)
o Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan
suasana asam.
o Dosis harian yang dianjurkan 25 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan tahap
lanjutan 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kg BB.
- Streptomisin (S)
o
Bersifat
bakterisid.
o
Pasien berumur
sampai 60 tahun
dosisnya 0,75 g/hari, sedangkan untuk berumur 60 tahun atau lebih
diberikan 0,50 g/hari.
- Etambutol (E)
o
Bersifat
sebagai bakteriostatik.
o
Dosis
harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB sedangkan untuk pengobatan tahap lanjutan 3
kali seminggu digunakan dosis 30 mg/kg BB.
Tabel-1: Jenis, sifat dan dosis OAT
Jenis OAT
|
Sifat
|
Dosis yang
direkomendasikan (mg/kg BB)
|
|
Harian
|
3 x seminggu
|
||
Isoniasid
(H)
|
Bakterisid
|
5
(4-6)
|
10
(8-12)
|
Rifampisin
(R)
|
Bakterisid
|
10
(8-12)
|
10
(8-12)
|
Pirazinamid
(Z)
|
Bakterisid
|
25
(20-30)
|
35
(30-40)
|
Streptomisin
(S)
|
Bakterisid
|
15
(12-18)
|
|
Etambutol
(E)
|
Bakteriostatik
|
15
(15-20)
|
30
(20-35)
|
Tabel-2: Dosis Obat Anti Tuberkulosis pada anak
Nama Obat
|
Dosis harian
(mg/kgBB/hari)
|
Dosis maksimal (mg per hari)
|
Efek samping
|
Isoniazid
|
5−15*
|
300
|
hepatitis,
neuritis perifer, hipersensitivitas
|
Rifampisin**
|
10−20
|
600
|
gastrointestinal,
reaksi kulit, hepatitis, trombositopenia, peningkatan enzim hati, cairan
tubuh berwarna oranye kemerahan
|
Pirazinamid
|
15−30
|
2000
|
toksisitas
hati,
artralgia, gastrointestinal
|
Etambutol
|
15−20
|
1250
|
neuritis
optik, ketajaman mata berkurang, buta warna
merah-hijau, penyempitan lapang pandang,
hipersensitivitas, gastrointestinal
|
Streptomisin
|
15−40
|
1000
|
ototoksik,
nefrotoksik
|
Catatan:
* Bila isoniazid dikombinasikan dengan
rifampisin, dosisnya tidak boleh melebihi 10 mg/kgBB/hari.
** Rifampisin
tidak boleh diracik dalam satu puyer dengan OAT lain karena dapat mengganggu
bioavailabilitas rifampisin.
Rifampisin diabsorpsi dengan baik melalui sistem gastrointestinal pada saat
perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan).
B.
PADUAN
OBAT ANTI TUBERKULOSIS STANDAR
Penulisan Kode Paduan Obat
Masing-masing
obat memiliki singkatan seperti ditulis pada tabel diatas. Paduan pengobatan TB terdiri dari 2 tahap,
yaitu tahap awal dan tahap lanjutan.
Paduan pengobatan TB mempunyai kode standar yang
menunjukkan:
- Tahap pengobatan,
- Lama pengobatan,
- Jenis OAT,
- Cara pemberian (harian atau 3 x seminggu) dan
- Paduan OAT, misalnya: Kategori 1 KDT: 2 (HRZE)/4 (HR)3
o Garis miring menunjukkan pemisahan tahapan pengobatan
o Angka 2 dan 4 menunjukkan lama tahap dalam bulan.
o Huruf dalam tanda kurung menunjukkan OAT-Kombinasi Dosis Tetap (KDT)
o Jika tanpa tanda kurung berarti OAT lepas atau kombipak.
o Angka setelah huruf atau tanda kurung menunjukkan jumlah dosis obat per
minggu.
o Jika tidak ada angka setelah huruf atau tanda kurung menunjukkan pengobatan
dilakukan setiap hari.

Tabel
3: Paduan pengobatan standar yang
direkomendasikan WHO (Treatment of Tuberculosis: Guideline for National
Program, WHO, 2003).
Kategori Diagnosis TB
|
Pasien TB
|
Paduan OAT
|
|
Tahap awal
(harian atau 3 x seminggu)a
|
Tahap lanjutan
(harian atau 3 x
seminggu) a
|
||
I
|
·
TB paru kasus baru
·
TB paru BTA negatif kasus baru dengan lesi luas
·
TB berat + HIV atau TB
ekstraparu berat
|
2 HRZE b
|
4H3R3 atau
4 HR c
|
II
|
TB paru BTA positif
dengan pengobatan terdahulu :
·
Kasus kambuh
·
Kasus putus berobat
·
Kasus gagal d
|
2 HRZES/ 1 HRZE
|
5 H3R3E3 atau 5 HRE
|
III
|
TB paru BTA negatif
kasus baru (selain kategori 1)
TB ekstraparu ringan
|
2 HRZE e
|
4H3R3 atau
4 HR
atau
6 H3E3 atau 6 HE c
|
IV
|
Kasus kronik atau MDR
(BTA masih positif setelah pengobatan ulang yang diawasi) f
|
|
Catatan:
a.
Pemakaian OAT harian pada
tahap awal dan 3 x seminggu atau harian pada tahap lanjutan disesuaikan dengan
kebijakan pada masing masing negara.
b.
Streptomisin dapat
diberikan bersamaan dengan Etambutol. Pada Meningitis TB, Etambutol diganti dg
Streptomisin.
c.
Bagi pasien yang gagal
dan kambuh setelah pengobatan selama 6 bulan, disarankan melanjutkan
pengobatannya dengan KDT sesuai yg direkomdasikan.
d.
Jika memungkinkan, dapat
dilakukan uji kepekaan obat sebelum memulai pengobatan Kategori 2 terutama pada
kasus gagal, bila hasilnya terbukti MDR TB disarankan pada pasien tersebut
menggunakan pengobatan Katagori 4.
e.
Etambutol dapat
diabaikan selama pengobatan tahap awal untuk pasien tanpa kavitas, pasien TB
paru BTA negatif yang HIV negatif, pasien TB bukan pasien MDR, dan anak-anak
dengan TB primer.
f.
Semua kontak dengan MDR
TB dianjurkan untuk melakukan biakan dan uji kepekaan.
Paduan OAT yang digunakan di Indonesia
- Paduan pengobatan KDT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan TB di Indonesia:
o
Kategori
1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
o Kategori 2 :
2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
o
Kategori
Anak* : 2(HRZ)/4(HR)
Di samping ketiga
kategori ini, ada paduan obat sisipan (HRZE).
Tablet OAT KDT ini terdiri dari
kombinasi 4 atau 2 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat
badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien.
- Paket Kombipak.
Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu blister
harian, yaitu Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol. Paduan OAT ini masih
disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.
Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket, dengan tujuan untuk
memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan
sampai selesai. Satu (1) paket untuk
satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan.
Catatan:
*Pada TB anak yang berat, misalnya TB milier, meningitis, spondilitis dan lainnya, ditambahkan Etambutol
dan/atau Streptomisin pada tahap awal. Tahap lanjutan diteruskan sampai 9-12
bulan.
OAT KDT
OAT KDT adalah
obat dalam bentuk kaplet dan tablet yang isinya terdiri dari kombinasi beberapa
jenis obat dengan dosis tertentu.
Dibandingkan
dengan bentuk obat yang tidak dikombinasi atau bentuk lepas, OAT KDT mempunyai
beberapa keuntungan dalam pengobatan TB, yaitu:
1. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan
sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping.
2. Mencegah penggunaan obat tunggal sehingga menurunkan
risiko terjadi resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep.
3. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit
sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien.
Jenis OAT KDT
Jenis-jenis OAT
KDT untuk dewasa:
- Kaplet 4KDT: kaplet yang mengandung 4 macam obat.
Setiap kaplet mengandung:
o
75
mg Isoniasid,
o
150
mg Rifampisin,
o
400
mg Pirazinamid dan
o
275
mg Etambutol.
Kaplet ini
digunakan untuk pengobatan setiap hari dalam tahap awal dan untuk sisipan.
Jumlah kaplet yang digunakan disesuaikan dengan berat badan pasien.
- Tablet 2KDT: tablet yang mengandung 2 macam obat.
Setiap tablet
mengandung:
o
150
mg Isoniasid,
o
150
mg Rifampisin.
Tablet ini
digunakan untuk pengobatan tahap lanjutan yang diberikan 3 kali seminggu (tidak
sesuai untuk digunakan sebagai dosis harian). Jumlah tablet yang digunakan disesuaikan
dengan berat badan pasien pada awal pengobatan.
Untuk pengobatan
paduan OAT Kategori 2, dilengkapi dengan:
o
Tablet
Etambutol 400 mg,
o Streptomisin injeksi
vial 1 g dan
o
Aquabidestilata.
C.
PADUAN
OAT DAN PERUNTUKANNYA
- Kategori-1 KDT: 2(HRZE)/ 4(HR)3
Paduan OAT ini diberikan untuk:
·
Pasien baru TB paru BTA Positif,
·
Pasien TB paru BTA negatif disertai foto toraks dengan
gambaran proses spesifik dan
·
Pasien
TB ekstraparu .
Tabel-4: Dosis Kategori 1 KDT
Berat Badan
|
Tahap Awal
setiap hari
(56 dosis)
|
Tahap Lanjutan
3 kali seminggu
Selama 16 minggu (48 dosis)
|
30 – 37 kg
|
2 kaplet
4KDT
|
2 tablet 2KDT
|
38 – 54 kg
|
3 kaplet
4KDT
|
3 tablet 2KDT
|
55 – 70 kg
|
4 kaplet
4KDT
|
4 tablet 2KDT
|
≥ 71 kg
|
5 kaplet
4KDT
|
5 tablet 2KDT
|
- Kategori 2 KDT: 2(HRZE)S/ (HRZE)/ 5(HR)3E3
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA
positif yang telah diobati sebelumnya:
·
Pasien
kambuh,
·
Pasien
gagal dan
·
Pasien
dengan pengobatan setelah default
(terputus).
Tabel-5: Dosis Kategori 2 KDT
Berat Badan
|
Tahap Awal
setiap hari
|
Tahap Lanjutan
3 kali seminggu selama 20 minggu (60 dosis)
|
|
56 dosis
|
28 dosis
|
||
30–37 kg
|
2 kaplet 4KDT
+ 500 mg Streptomisin inj.
|
2 kaplet 4KDT
|
2
tab 2KDT
+
2 tab Etambutol
|
38–54 kg
|
3 kaplet 4KDT
+ 750 mg Streptomisin
inj.
|
3 kaplet 4KDT
|
3
tab 2KDT
+
3 tab Etambutol
|
55–70 kg
|
4 kaplet 4KDT
+ 1000 mg Streptomisin inj.
|
4 kaplet 4KDT
|
4
tab 2KDT
+
4 tab Etambutol
|
≥ 71 kg
|
5 kaplet 4KDT
+ 1000mg Streptomisin inj.
|
5 kaplet 4KDT
|
5
tab 2KDT
+
5 tab Etambutol
|
Catatan:
Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis
maksimal untuk streptomisin adalah 500mg.
Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan
menambahkan aquabidest sebanyak 3,7ml sehingga menjadi 4ml. (1ml = 250mg)
- OAT Sisipan KDT (HRZE)
Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap awal
kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari).
Tabel-6: Dosis Sisipan KDT
Berat Badan
|
Pemberian setiap hari selama 28 hari (28 dosis)
|
30 – 37
kg
|
2 kaplet
4KDT
|
38 – 54
kg
|
3 kaplet
4KDT
|
55 – 70
kg
|
4 kaplet
4KDT
|
≥ 71 kg
|
5 kaplet
4KDT
|
Penggunaan OAT lini
kedua misalnya golongan Amikasin (misalnya Kanamisin) dan golongan fluorokinolon
tidak dianjurkan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi
obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lini pertama. Di samping itu dapat
juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lini kedua.
- Kategori Anak (2RHZ/ 4RH)
Prinsip dasar
pengobatan TB adalah minimal 3 macam
obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. OAT pada anak diberikan setiap hari, baik pada tahap awal
maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak.
Tabel-7: Dosis Anak Kombipak
Jenis Obat
|
BB
< 10 kg
|
BB
10 - 19 kg
|
BB
20 - 33 kg
|
Isoniasid
|
50 mg
|
100 mg
|
200 mg
|
Rifampicin
|
75 mg
|
150 mg
|
300 mg
|
Pirasinamid
|
150 mg
|
300 mg
|
600 mg
|
Tabel-8: Dosis Anak KDT
Berat Badan (kg)
|
2 bulan tiap hari
RHZ (75/50/150 mg)
|
4 bulan tiap hari
RH (75/50 mg)
|
5-9
|
1 tablet
|
1 tablet
|
10-14
|
2 tablet
|
2 tablet
|
15-19
|
3 tablet
|
3 tablet
|
20-32
|
4 tablet
|
4 tablet
|
Catatan
·
Bila
BB >33 kg, dosis disesuaikan dengan Tabel-2 di atas (perhatikan dosis
maksimal).
·
Bila BB <5 kg, tidak menggunakan OAT KDT Anak, tetapi menggunakan
obat lepas dengan dosis dihitung berdasarkan BB.
·
OAT Anak KDT tidak boleh diberikan setengah
dosis tablet.
·
Perhitungan pemberian
tablet di atas sudah memperhatikan kesesuaian dosis per kg BB.
ALUR TATALAKSANA PASIEN TB ANAK
![]() |
|
![]() |
![]() |
![]() |
||
|
|
|
Setelah pemberian
obat selama 6 bulan, OAT dihentikan dengan melakukan evaluasi baik klinis
maupun pemeriksaan penunjang lain. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata
walaupun gambaran radiologis tidak menunjukkan perubahan yang berarti, maka
pengobatan dihentikan.
Paduan therapi berbagai jenis TB Anak.
Tuberkulosis
merupakan penyakit sistemik dalam arti dapat mengenai hampir semua sistem
organ. Pada beberapa batuk klinis penyakit TB diperlukan paduan obat yang lebih
banyak dan durasi pemberian yang lebih lama. Bahkan beberapa diantaranya
memerlukan pemberian steroid yaitu Prednison dengan dosis 1-2 mg/kg.BB/hari,
selama 4-8 minggu. Tabel berikut mencantumkan variasi paduan obat dan durasi
therapi.
Tabel 8. Paduan
therapi berbagai jenis TB Anak
JENIS
TB
|
PADUAN
OBAT
|
DURASI
THERAPI
|
STEROID
PREDNISON
|
DURASI
STEROID (DOSIS PENUH)
|
TB Anak—Umum
|
2RHZ/4RH
|
6 Bln
|
-
|
-
|
TB Kelenjar Limpe
|
2RHZ/4RH
|
6 Bln
|
-
|
-
|
TB Kulit
|
2RHZ/4RH
|
6 Bln
|
-
|
-
|
Efusi Pleura
|
2RHZ/4RH
|
6 Bln
|
1-2
mg/kk.BB/hari
|
2
minggu
|
TB Milier
|
2RHZE(S)/10RH
|
12 Bln
|
1-2
mg.BB/hari
|
2 minggu
|
Meningitis TB
|
2RHZE(S)/10RH
|
12 Bln
|
1-2
mg.BB/hari
|
4
minggu
|
Perikarditis TB
|
2RHZE(S)/10RH
|
12 Bln
|
1-2
mg.BB/hari
|
4
minggu
|
TB Abdomen
|
2RHZE(S)/10RH
|
12 Bln
|
1-2
mg/kk.BB/hari
|
4
minggu
|
TB Tulang
|
2RHZE(S)/10RH
|
12 Bln
|
-
|
-
|
TB Hepar
|
2RHZE(S)/10RH
|
12 Bln
|
-
|
-
|
TB Ginjal
|
2RHZE(S)/10RH
|
12 Bln
|
-
|
-
|
Catatan :
·
Terapi fase awal
diberikan selama 12 bulan, kemudian pada fase lanjutan diberikan Isoniazid dan
rifampisin sampai 6/12 bulan sesuai durasi terapi.
·
Steroid diberikan dalam
dosis penuh dalam 2-4 minggu, kemudian dosis diturunkan bertahap (tappering
off) dalam waktu yang sama.
·
TB Abdomen yang perlu
diberi steroid adalah yang tipe asitik yaitu yang disertai Asites.
D.
PENGOBATAN
PENCEGAHAN UNTUK ANAK (Kemoprofilaksis)
Sekitar 50-60% balita yang tinggal serumah dengan pasien TB Paru BTA
positif, akan terinfeksi TB. Kira-kira 10% dari yang terinfeksi tersebut akan
sakit TB. Infeksi TB pada balita berisiko tinggi menjadi TB berat (misalnya TB meningitis atau TB milier) sehingga diperlukan pemberian kemoprofilaksis untuk
mencegah sakit TB.
Pada semua anak, terutama balita yang tinggal serumah
atau kontak erat dengan pasien TB BTA positif, perlu dilakukan pemeriksaan:
- Bila anak mempunyai gejala-gejala seperti TB harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut sesuai dengan alur deteksi dini TB anak.
- Bila anak balita tidak mempunyai gejala-gejala seperti TB (sehat), dan balita tersebut mendapat nilai <5 pada sistem pembobotan, harus diberikan pengobatan pencegahan dengan Isoniasid (INH) dengan dosis 5-10 mg per kg berat badan per hari selama 6 bulan.
Bila anak
tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG,
perlu diberi BCG setelah pengobatan
pencegahan dengan INH selesai.
. Monitoring dan Evaluasi
Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi
manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program.
Pemantauan dilaksanakan secara berkala dan terus
menerus, untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan
kegiatan yang telah direncanakan, supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan
segera.
Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu
(interval) lebih lama, misalnya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. Dengan evaluasi
dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya
dicapai. Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. Hasil
evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan kegiatan berikutnya.
Seluruh
kegiatan tersebut harus dimonitor baik dari aspek masukan (input), pelaksanaan
(proses), maupun luaran (output). Cara pemantauan
dilakukan dengan menelaah laporan, pengamatan langsung dan wawancara dengan
petugas pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran.
Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi, diperlukan
suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan
benar.
A. PENCATATAN DAN PELAPORAN
Salah satu
komponen penting dari surveilans yaitu
pencatatan dan pelaporan dengan maksud mendapatkan data untuk diolah,
dianalisis, diinterpretasi, disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan.
Data yang dikumpulkan pada kegiatan surveilans harus valid (akurat,
lengkap dan tepat waktu) sehingga
memudahkan dalam pengolahan dan analisis.
Data Program Nasional Penanggulangan TB dapat diperoleh dari pencatatan
di semua unit pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan satu sistem yang
baku.
UPK (puskesmas, rumah sakit, BP4/BBKPM/ BKPM, klinik, DPS, dan lain-lain)
dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir :
·
Daftar tersangka (suspek) yang
diperiksa dahak SPS (TB.06).
·
Formulir permohonan laboratorium TB untuk
pemeriksaan dahak (TB.05).
·
Register laboratorium TB
(Formulir TB.04)
·
Kartu pengobatan pasien TB
(TB.01)
·
Kartu
identitas pasien (TB.02)
·
Register
TB.03 UPK
·
Formulir
rujukan/ pindah pasien TB (TB.09)
·
Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan
(TB.10).
B. ANALISA DATA
Untuk
mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan (marker of progress). Indikator yang baik harus
memenuhi syarat-syarat tertentu seperti:
1. Sahih (valid);
2. Sensitif dan Spesifik
(sensitive and specific);
3.
Dapat
dipercaya (realiable);
4. Dapat diukur (measureable);
5. Dapat dicapai (achievable).
Untuk tiap tingkat
administrasi memiliki indikator sebagai berikut:
Tabel-1. Indikator
Kegiatan Penanggulangan TB yang Dapat Digunakan di RS
No
|
Indikator
|
Sumber Data
|
Periode
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
1
|
Proporsi pasien TB
paru BTA positif di antara suspek yang diperiksa dahaknya
|
TB-06
|
Triwulan
|
|
2
|
Proporsi pasien TB paru BTA positif di antara seluruh pasien TB Paru
|
TB-01
TB-03
TB-07
|
Triwulan
|
|
3
|
Proporsi pasien TB Anak di antara seluruh
pasien TB
|
TB-01
TB-03
TB-07
|
Triwulan
|
|
4
|
Angka Konversi (Convertion Rate)
|
TB-01
TB-03
TB-11
|
Triwulan
|
|
5
|
Anga Putus Berobat (Default Rate)
|
TB-01
TB-03
|
Triwulan
|
|
6
|
Angka Keberhasilan Rujukan
(Success Referral
Rate)
|
TB-01
Buku
bantu rujukan
|
Triwulan
|
|
7
|
Angka Kesembuhan (Cure Rate)
|
TB-01
TB-03
TB-08
|
9-12
bulan
|
|
8
|
Angka Kesalahan
Laboratorium (Error Rate)
|
TB-12
|
Triwulan
|
1. Cara menghitung dan analisa indikator
a. Proporsi pasien BTA positif diantara suspek.
Adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek
yang diperiksa dahaknya.
Angka ini menggambarkan mutu proses penemuan sampai diagnosis pasien, serta kepekaan menetapkan kriteria suspek.
Rumus:
|
Jumlah pasien BTA positif (Baru + Kambuh) yang ditemukan
|
x 100%
|
|
Jumlah seluruh suspek yang diperiksa
|
Angka ini sekitar
5 - 15%.
Bila angka ini terlalu kecil (<5 %) kemungkinan
disebabkan :
·
Penjaringan suspek
terlalu longgar. Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek, atau
·
Ada masalah dalam
pemeriksaan laboratorium (negatif palsu tinggi).
Bila angka ini terlalu
besar (>15%) kemungkinan disebabkan:
·
Penjaringan
terlalu ketat, atau
·
Ada masalah dalam
pemeriksaan laboratorium (positif palsu tinggi).
b. Proporsi pasien TB paru BTA positif di antara semua
pasien TB paru tercatat.
Adalah persentase pasien TB paru BTA positif di antara semua pasien TB
paru tercatat.
Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien TB yang menular di
antara seluruh pasien TB paru yang diobati.
Rumus:
|
Jumlah pasien
TB BTA positif (Baru + Kambuh)
|
|
x 100%
|
|
Jumlah
pasien TB paru
|
|
Angka ini sebaiknya jangan
kurang dari 65%. Bila angka ini jauh lebih rendah, itu berarti kualitas
diagnosis rendah, dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang
menular (pasien BTA positif).
c. Proporsi pasien TB Anak di antara seluruh pasien.
Adalah jumlah
pasien TB anak yang ditemukan diantara semua pasienTB.
Angka ini menggambarkan diagnosis TB anak di suatu wilayah.
Rumus:
|
Jumlah
pasien TB Anak yang ditemukan
|
|
x 100%
|
|
Jumlah seluruh
pasien TB
|
|
Angka ini
sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis
TB pada anak. Angka ini berkisar 10-15%.
Bila angka ini terlalu besar dari 15%, kemungkinan terjadi overdiagnosis.
d. Angka
Konversi (Convertion Rate)
Angka konversi adalah persentase
pasien TB paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah
menjalani masa pengobatan tahap awal.
Angka konversi dihitung tersendiri
untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien, BTA postif baru dengan pengobatan
kategori 1, atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2. Indikator ini
berguna untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan
untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan
benar.
Rumus:
|
Jumlah
pasien baru TB BTA positif yg konversi
|
|
x 100%
|
|
Jumlah
pasien baru TB BTA positif yg diobati
|
|
Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif :
Di RS, indikator ini
dapat dihitung dari kartu pasien TB.01, yaitu dengan cara mereview seluruh
kartu pasien baru BTA positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya,
kemudian dihitung berapa di antaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif,
setelah pengobatan pada tahap awal (2 bulan).
Angka yang
harus dicapai adalah minimal 80%.
Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi
pula.
Selain
dihitung angka konversi pasien baru TB paru BTA positif, perlu dihitung juga
angka konversi untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan dengan
kategori 2.
e. Angka Putus Berobat (Default Rate)
Angka putus
berobat adalah persentase pasien TB yang putus berobat diantara seluruh pasien
TB yang diobati dalam kurun waktu tertentu.
Angka ini
dihitung untuk mengetahui keteraturan pengobatan pasien TB.
Rumus:
|
Jumlah
pasien TB yg Default dalam satu
triwulan
|
|
x 100%
|
|
Jumlah pasien
TB diobati dalam satu triwulan yg sama
|
|
Angka ini
sebaiknya <5%. Bila angka ini ≥5% memberikan pengertian bahwa jejaring
internal dan eksternal belum berjalan dengan baik dan perlu segera dilakukan
tindakan korektif.
Seharusnya
semua pasien TB yang datang maupun pergi dari dan ke rumah sakit tercatat di
unit DOTS.
f. Angka Keberhasilan Rujukan (Success Referral Rate)
Angka
keberhasilan rujukan adalah persentase pasien TB yang dirujuk dan sampai di RS/UPK
rujukan diantara seluruh pasien TB yang dirujuk.
Angka ini
dihitung untuk mengetahui keberhasilan rujukan.
Rumus:
|
Jumlah pasien TB dirujuk yg sampai ditempat rujukan dalam satu
triwulan
|
|
x 100%
|
|
Jumlah pasien TB dirujuk dalam satu triwulan yg sama
|
|
Angka ini
sebaiknya minimal 80%. Bila kurang,
berarti jejaring eksternal belum berfungsi secara optimal.
g. Angka
Kesembuhan (Cure Rate)
Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA
positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan, diantara pasien TB BTA
positif yang tercatat.
Angka kesembuhan dihitung tersendiri untuk pasien baru BTA positif yang
mendapat pengobatan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan
kategori 2. Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan program dan
masalah potensial.
Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori
1.
Rumus:
|
Jumlah
pasien baru TB BTA positif yang sembuh
|
|
x 100%
|
|
Jumlah
pasien baru TB BTA positif yang diobati
|
|
Di RS/UPK, indikator
ini dapat dihitung dari kartu pasien TB.01, yaitu dengan cara mereview seluruh
kartu pasien baru BTA positif yang mulai berobat dalam 9-12 bulan sebelumnya,
kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh, setelah selesai pengobatan.
Angka yang harus
dicapai adalah minimal 85%. Angka
kesembuhan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan.
Bila angka kesembuhan
lebih rendah dari 85%, maka harus ada informasi dari hasil pengobatan lainnya,
yaitu berapa pasien yang digolongkan sebagai pengobatan lengkap, default (drop-out atau lalai), gagal, meninggal, dan pindah keluar.
Selain
dihitung angka kesembuhan pasien baru TB paru BTA positif (kategori 1), perlu
dihitung juga angka kesembuhan untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat
pengobatan ulang dengan kategori 2.
h.
Angka Kesalahan Baca (Error
Rate)
Error rate atau angka kesalahan baca adalah angka kesalahan laboratorium yang
menyatakan persentase kesalahan pembacaan slide/ sediaan yang dilakukan oleh
laboratorium pemeriksa pertama setelah diuji silang (cross check) oleh Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) atau
laboratorium rujukan lain.
Angka ini menggambarkan kualitas pembacaan slide secara mikroskopis
langsung laboratorium pemeriksa pertama.
Rumus:
|
Jumlah
sediaan yang dibaca salah
|
|
x 100%
|
|
Jumlah
seluruh sediaan yang di cross chek
|
|
Angka kesalahan baca sediaan (error
rate) ini hanya bisa ditoleransi maksimal
sebesar 5%.
Apabila error rate ≤ 5 % dan positif palsu serta negative palsu keduanya ≤
5% berarti mutu pemeriksaan baik.
Error rate ini menjadi kurang berarti bila jumlah slide yang di uji silang relatif
sedikit. Pada dasarnya error rate
dihitung pada masing-masing laboratorium pemeriksa, dilakukan oleh wasor dinkes
tingkat kabupaten/ kota.
Kabupaten/kota
harus menganalisa berapa persen laboratorium pemeriksa yang ada diwilayahnya, kabupaten/kota
juga menghitung jumlah RS/UPK yang
melakukan uji silang, di samping itu menghitung/menganalisa error rate per PRM/PPM/RS/ BBKPM/BKPM/BP4/DPS/klinik,
supaya dapat mengetahui kualitas pemeriksaan slide dahak secara mikroskopis
langsung.
ALUR DIAGNOSE TB ANAK :
Diagnosis TB anak sulit dilakukan karena gejalanya tidak khas, untuk itu perlu
pemeriksaan yang sangat seksama. Jika diagnosis TB pada anak ditegakkan dengan
mudah, mungkin terjadi overdiagnosis.
Namun demikian bisa juga terjadi underdiagnosis
(terlewatkan).
Dahak pada anak biasanya sulit diperoleh karena sering ditelan, tetapi pada anak
yang bisa mengeluarkan dahak, dilakukan pemeriksaan mikroskopis dahak.
Usapan laring dan bilasan lambung kurang memberikan hasil BTA positif
pada pemeriksaan mikroskopis langsung kecuali bila dibiakkan. Secara praktis
konfirmasi bakteriologis tidak selalu diperlukan. Karena itu diagnosis TB paru
pada anak hampir selalu ditegakkan secara presumtif berdasarkan gejala-gejala dan atau
tanda-tanda klinis.
GEJALA
Gejala dan tanda TB pada anak sangat bervariasi.
- Nafsu makan tidak ada (anoreksia);
- Masalah BB:
· BB turun tanpa sebab yang jelas,
· BB tidak naik dalam 1 bulan dengan penanganan gizi yang adekuat (gagal tumbuh) dan
· BB naik tapi tidak sesuai dengan grafik tumbuh.
- Demam lama (≥2 minggu) dan atau berulang tanpa sebab yang jelas; dapat disertai keringat malam dengan demam yang umumnya tidak tinggi (subfebris);
- Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang biasanya multipel, saling melekat dan tidak nyeri tekan;
- Batuk lama ≥3 minggu dan sebab lain telah disingkirkan;
- Diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan diare.
Catatan:
Penilaian status gizi pada anak yang terbaik adalah dengan melihat angka
berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB), pada lampiran
2.
DIAGNOSIS
Ikatan Dokter
Anak Indonesia (IDAI) telah membuat Pedoman
Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistim skoring (scoring
system), yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Sistim
tersebut secara resmi digunakan oleh program untuk diagnosis TB pada anak, pada
Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) dengan fasilitas
terbatas.
Sistim skoring dapat dilihat pada lampiran 1.
Untuk
mendiagnosis TB di sarana yang memadai, sistim skoring hanya digunakan sebagai sarana
penjaringan awal (entry point), namun
jangan digunakan sebagai sarana diagnosis akhir (end point). Diagnosis dilengkapi dengan pemeriksaan penunjang lainnya,
seperti:
·
Pemeriksaan mikrobiologi (BTA, PCR dan kultur M. Tuberculosis) dengan spesimen bilas lambung; pungsi pleura, pungsi lumbal, pungsi asites,
·
Patologi anatomik: sitologik
dan histopatologik (kelenjar getah bening atau jaringan lain),
·
Pencitraan: USG, Radiologik
dan CT scan, termasuk foto tulang dan sendi,
·
Funduskopi,
bronkoskopi.
Perlu perhatian khusus jika
ditemukan salah satu keadaan di bawah ini:
|
1. Tanda bahaya:
§ kejang,
kaku kuduk
§ penurunan
kesadaran
§ kegawatan
lain, misalnya sesak napas
2. Foto toraks menunjukkan
gambaran milier, cavitas, efusi pleura
3. Gibbus, koksitis
|
Setelah dokter
melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, maka
dilakukan pembobotan dengan sistem skoring. Pasien dengan jumlah skor yang
lebih atau sama dengan 6 (>6), harus ditatalaksana sebagai pasien TB
dan mendapat OAT (Obat Anti Tuberkulosis). Bila
skor <6 tetapi secara klinis dicurigai TB maka perlu dilakukan
pemeriksaan penunjang seperti diuraikan di atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar