![]() |
Ilustrasi - dok.pribadi |
Beberapa
waktu lalu saat sedang menjaga apotek, saya didatangi oleh seorang pasien
dengan membawa sebuah bungkusan obat.
“Mbak,
beli obat kayak gini,” katanya sambil memperlihatkan kemasan obat tersebut.
Saya
kemudian meminta kemasan obat tersebut
dan memperhatikan nama obat yang tertera. Meski sudah kurang jelas karena sobek
di sana-sini, namun saya akhirnya mampu mengenali obat itu.
“Ibu
dapat obat ini dari mana?” tanya saya.
“Ini
buat suami saya Mbak, bulan lalu sempat periksa ke Rumah Sakit, di kasih obat
kayak gini. Kata dokternya harus minum terus, cuma kami gak sempat lagi mau
check up, jadinya mau beli obat saja,” demikian terangnya.
“T’rus
obatnya masih ada nggak Bu?”
“Ya,
ini yang terakhir Mbak. Buat besok sudah nggak ada. Lagian suami saya malas ke
Rumah Sakit lagi, mana antrinya lama, jauh pula, obatnya ya itu-itu juga.
Mendingan beli sajalah.”
“Lho
kok tau obat yang dikasih itu-itu saja Bu?”
“Ya
iya Mbak, dua bulan berobat, dikasihnya obat yang sama persis seperti ini.”
“Hmmm…
T’rus waktu periksa, suami Ibu dibilang sakit apa sama dokter?”
“Katanya
sih sakit paru-paru Mbak. Suami saya dulu awalnya cuma batuk-batuk, sudah minum
segala macam obat batuk gak kunjung sembuh, ya sudah periksa ke Rumah Sakit
sampe rontgen, hasilnya ya begitu. Nah, di kasih obat beginian sudah agak
mendingan. Badannya mulai sehat. Bahkan dia makannya jadi banyak. Batuknya juga
sudah berkurang.”
“Oooh…
bagus ya kalo gitu Bu! Tapi kalau saya kasih saran, boleh nggak? ”
“Saran
bagaimana Mbak?”
“Gini
lho Bu, obat-obat ini memang untuk paru-paru, atau kadang orang bilang sakit
TB. Tapi ini bentuknya paketan. Nah, kalo yang seperti suami ibu ini minum
adalah obat yang di sebut tahap intensif, alias harus di minum terus setiap
hari. Obat ini punya pemerintah Bu, jadi nggak dijual bebas. Di sini obatnya
nggak ada, dan seandainya ibu keliling semua apotek juga pasti gak bakalan
dapat.”
“Iya
juga sih, tadi saya sudah dari apotek sebelah, katanya nggak ada.”
“Nah,
tuh kan. Jadi lebih baik begini saja Bu, besok pagi ajak suami ibu ke
Puskesmas. Ibu tau puskesmas Aimas yang di SP 2 itu? Eh, Ibu tinggal di mana
dulu?”
“Saya
ya tinggalnya dekat-dekat sini saja, di sawah-sawah belakang itu lho Mbak.”
“Ooh
pas kalo gitu. Ibu masuk ke wilayah Puskesmas Aimas memang. Besok ibu dengan
suami ke sana saja. Trus bawa bungkusan obat ini. Jelaskan sama petugasnya,
sudah berapa lama suami ibu minum obat. Jangan lupa kasih tahu, tadi pagi itu
Bapak minum obat yang terakhir, biar besok mereka langsung kasih obat.
Seterusnya pasti nanti Bapak di suruh berobat ke sana terus, gak usah ke Rumah
Sakit. Kan lebih enak to Bu, Puskesmas kan lebih dekat.”
“Hmmm…
begitu ya Mbak?”
“Iya,
dan satu lagi Bu, obat ini gratis… Gak pake bayar. Gak usah keliling-keliling
apotek buat nyari. Bikin cape aja, malah keluar duit buat keliling-keliling.
Langsung saja ke Puskesmas, pasti dilayani Bu."
“Waah…
enak ya kalo gitu. Ternyata gratis to…” Ibu itu mulai manggut-manggut.
“Eh
iya, satu lagi Bu, yang paling penting, harus teratur minum obat ya. Bilang
Bapak jangan pernah lupa minum obat. Ibu sebagai istrinya harus menjadi
Pengawas Minum Obat alias PMO buat bapak. Obatnya di minum selama 6 bulan, gak
boleh berhenti. Ibu mau kan Bapak sembuh total biar bisa sehat lagi?”
“Ya
iyalah Mbak…”
“Iya
Bu, harus kayak gitu. Soalnya seperti tadi Ibu bilang, kadang kalo sudah minum
obat trus rasa sudah enakan kayak Ibu bilang tadi, orang kadang jadi malas mau
melanjutkan. Alasannya sudah sembuhlah. Padahal belum lho Bu, harus minum sampai
tuntas ya. Kalo minumnya setengah-setengah alias berhenti di tengah jalan,
malah bisa lebih berbahaya lagi. Kumannya nggak mati semua, malahan mereka bisa
berkembang lagi nantinya, bisa kambuh sakitnya. Kalo kambuh, sembuhinnya lebih
susah lagi. Pake acara suntik, obatnya pun jadi lebih banyak. Minumnya lebih
lama lagi. Repot kan Bu!”
“Waduh,
jangan sampai deh Mbak. Iya..iya…. Besok, saya pasti ke Puskesmas. Tapi beneran
kan ini gratis?”
“Iya
Bu. Gratis… tis..tis… Gak pake bayar. Titik. Atau ibu mau bayar?”
“Ya
enggaklah Mbak, siapa juga yang mau bayar kalo emang gratis.”
“Iya
Bu. Soalnya ini memang obat program dari pemerintah. Seandainya bayar, ini
harganya lumayan mahal lho Bu. Trus, satu lagi, jangan lupa lapor ke Rumah Sakit ya kalo suami ibu pindah berobat. Itu juga penting buat kepentingan administrasi di Rumah Sakit sana.”
“Oh..
iya.. iya.. Makasih lagi ya Mbak. Saya pamit dulu.”
“Oke
Bu.. Semoga Bapaknya cepat sehat ya.”
Demikianlah
perbincangan saya dengan ibu tersebut. Selain dengan ibu itu, masih ada lagi
beberapa pasien yang saya hadapi dengan kasus serupa. Malah kadang ada yang
tidak membawa obat dalam bentuk paketan itu, tapi dengan bentuk lepas yakni
beberapa jenis antibiotik untuk TB. Kadang mereka langsung datang dengan
menyebut beli obat yang “kincing merah”
(mereka bilang kincing merah karena salah satu efek samping obat TB dalam hal
ini Rifampicin adalah menyebabkan air seni berwarna kemerahan), ataupun dengan
menunjukkan bungkus obat seperti si Ibu di atas. Namun saran saya selalu sama.
Pergilah ke Puskesmas. Pemerintah sudah capek-capek menyediakan sarana dan
prasarana kesehatan buat kita, kenapa kita tidak manfaatkan?
Obat
untuk TB pada awalnya memang diberikan dalam bentuk obat-obatan lepas yang
terdiri dari beberapa kombinasi antibiotik antara lain Rifampicin, Izoniazid,
Pirazinamid, Ethambutol dan Streptomicin. Pada pasien yang baru diperiksa dan
ternyata hasilnya BTA positif (BTA +), atau BTAnya negative (BTA -) namun hasil
rontgen positif ataupun pada pasien ekstra paru maka diobati dengan Izoniazid,
Rifampicin, Pirazinamid, dan Ethambutol. Keempat jenis obat ini diminum selama
2 bulan. Selanjutnya selama empat bulan berikutnya akan mengonsumsi Izoniasid
dan Rifampicin saja.
Hmmm…
kalo dipikir-pikir agak ribet juga ya minum obat sebanyak itu. Belum lagi jika
pasien adalah tipe yang sukar minum obat apalagi dengan jumlah sebanyak itu.
Akhirnya
dengan berbagai pertimbangan, maka dibuatlah obat dalam bentuk paket OAT (Obat
Anti Tuberkulosis). OAT ini dibuat dalam bentuk Kombinasi Dosis Tetap (Fixed
Dose Combination) yang merupakan kombinasi beberapa jenis obat yang dikemas
dalam 1 tablet. OAT ini terdiri dari beberapa jenis paket yang disebut OAT
kategori 1, OAT kategori 2, Sisipan dan Kategori Anak.
Untuk
penggunaannya sendiri adalah sebagai berikut :
1.
OAT Kategori 1,
digunakan pada pasien seperti yang disebutkan di atas. Yakni hasil pemeriksaan
BTA +, atau BTA – rontgen +, dan juga pasien TB ekstra paru.
Dosisnya terbagi dua yakni 2 bulan tahap
intensif, dan 4 bulan selanjutnya adalah tahap lanjutan. Pada tahap intensif
pasien diberikan 2 tablet setiap hari (namun tentunya ini juga tergantung berat
badan pasien, 2 tablet ini jika BB 30 – 37 kg, jika BB di atas itu maka jumlah
tabletpun disesuaikan). Kemudian pada tahap lanjutan, selama 4 bulan berikutnya
pasien tidak lagi mengkonsumsi obat tiap hari. Cukup 3 kali seminggu, dan dosis
jumlah tablet juga disesuaikan dengan berat badan, sebagai contoh BB 30 – 37 kg
sebanyak 2 tablet.
2.
OAT Kategori 2
OAT jenis ini diberikan pada pasien BTA
positif yang telah diobati sebelumnya. Dalam hal ini bisa saja pasien kambuh,
gagal, ataupun pasien yang putus berobat.
Dosisnya juga terbagi dalam tahap intensif dan
tahap lanjutan. Pada tahap intensif selama 3 bulan setiap hari mengkonsumsi
obat dengan tambahan suntikan Streptomicin setiap harinya selama 2 bulan.
Sedangkan tahap lanjutannya berlangsung 5
bulan dengan mengkonsumsi obat 3 kali seminggu. Dosis jumlah obat tetap
disesuaikan dengan Berat Badan pasien.
3.
Sisipan
OAT sisipan diberikan kepada pasien baru TB
BTA + yang pada akhir pengobatan tahap awal masih tetap BTAnya + saat
diperiksa.
Panduan pemakaiannya adalah sama seperti
panduan paket kategori 1 untuk tahap awal. OAT sisipan diberikan selama 1 bulan
(28 hari).
4.
OAT Kategori Anak
Sama seperti di OAT Kategori 1, tahap intensif
selama 2 bulan dan tahap lanjutannya selama 4 bulan. Hanya bedanya adalah OAT
anak diberikan setiap hari baik tahap intensif, maupun tahap lanjutan. Dosisnya
tetap disesuaikan dengan berat badan anak.
![]() |
OAT Kategori Anak |
Demikianlah jenis-jenis obat TB. Jangan
lupa, pengobatan TB ini harus berlangsung secara lengkap dan teratur. Bila
pasien berhenti minum obat sebelum selesai waktu pengobatannya, maka jelas akan
sangat beresiko. Antara lain seperti ketika saya menakut-nakuti si Ibu di atas.
Penyakit tidak akan sembuh, dan malah berpotensi untuk tetap menularkan ke
orang lain. Bahkan penyakit bisa semakin parah dan jelas bisa mengakibatkan
kematian. Selain itu, kuman TB yang sudah ada dalam tubuh akan terus berkembang
sehingga bisa saja dia akan menjadi kebal terhadap obat TB yang telah diminum
sebelumnya dan malahan harus menggunakan obat yang lebih mahal dengan waktu
pengobatan yang lebih lama.
Obat TB memang mahal, namun kita harus
bersyukur, karena pemerintah masih menggratiskan obat ini kepada masyarakat.
Namun obat gratis ini tentu bisa kita peroleh jika kita berobat ke fasilitas
pemerintah. Tentunya yang paling dekat adalah ke unit layanan Puskesmas maupun ke Rumah Sakit pemerintah. Mari
kita manfaatkan fasilitas yang ada. Daripada bayar mahal-mahal, mendingan pilih
yang gratisan kan?
beruntungnya si ibu bertemu dengan ahlinya ya jadi bisa lagusng diarahkan
BalasHapusWaaah... saya nggak ahli2 amat mba Lid.. *Jadi malu hehehe...
BalasHapusUntuk TB ini ilmunya lumayan banyak jadi..
komplit, Mak. Smeoga menang :)
BalasHapusiya betul mak di sini juga ada aja yg males minum obat..
BalasHapusmesti sering didatangi ya
good luck kontesnya mak
Wah komplit banget. baru tahu kalau obat tb itu ada paket2an dan kalau di puskesmas gratis
BalasHapus