Selasa, 07 Agustus 2012

Ketika si kecil sakit

Duhh,, lama juga nggak menengok ke blog ini..
Hampir 2 minggu terlupakan. Hehe.. sebenarnya bukan lupa sih, cuman nggak sempat saja.
Banyak alasan sih kalau mau nyari2 alasan,
 pertama, pulsa modemnya kandas hehehe...
kedua, beberapa minggu ini dapat tugas dari kantor untuk turun lapangan, jadilah gak sempat duduk manis lagi.
ketiga, anak saya barusan sakit dan wihhh rewelnya minta ampunn... hiks..hiks..

Nah, yang saya mau share tentang si kecil yang sakit. Hari jumat yang lalu, pas pulang kantor, saya mendapati dia kelihatan lesu banget gak bergairah.. Padahal biasanya kalo mamanya pulang dia langsung lari2 sambil meluk teriak2 : mamakku..mamakkuuuu... maamiii.. mamiiii ulang antollll.........
kali ini dia cuma mengangkat muka dan minta di gendong.
Eh, gak lama langsung  hueeeekkkkkk..... muntahlah dia...
Usut punya usut, katanya dia bermain bersama temannya tadi di bawah terik matahari setelah itu langsung minum susu UHT yang dingin.. Hmmmmmmmm... pantaslah muntahannya berwarna coklat semua.
Saya meraba keningnya, agak sedikit hangat.. Dengan bantuan termometer, syukurlah suhunya tidak terlalu tinggi, masih di seputaran 35 - 36 C.
Meski begitu, tetap saja saya khawatir, soalnya setiap kali minum dia langsung muntah. Begitu terus berulang-ulang.
Namun dalam hati saya juga bersyukur, anak ini memilih sakit tepat saat weekend, jadi saya tidak perlu mengkhawatirkan pekerjaan di kantor. Paling nggak kalau dia sakit sampai besoknya, saya ada terus menjaganya.

Dan untung pula ini hari Jumat, jadi dokter masih praktek. Saat dokter datang, saya langsung konsultasi. Ketika dokter coba memeriksa, Wildanya malah ngamuk-ngamuk, dia seperti tak sudi di sentuh oleh dokter. Sayapun tambah keringatan menggendongnya.. (oh ya, satu lagi, dia nggak mau di gendong pake kain gendong, pun tak mau orang lain yang menggendongnya kecuali saya hikss..hiks....)
Setelah di bujuk dengan berbagai macam cara, akhirnya dia mau membalikkan tubuhnya dan di sentuh oleh dokter di bagian perut.
Menurut dokter kemungkinan dia masuk angin.
Resep ringan dari dokter cuma di suruh balur dengan bawang merah yang di bakar di campur minyak goreng pada bagian pusarnya. Setelah itu di beri makan sedikit, gak usah di paksa makannya. Dan terakhir beri obat penurun panas.

Cuma itu.
Sayapun segera mempraktekkannya..
Dan taraaa........
Meski malamnya masih muntah beberapa kali, tapi besoknya Wilda sudah ceria lagi...
Duh senangnya...


Makasih Dokter....
(ssttttt, meski saran dokter cuma di balur di pusarnya, namun saya tetap menggosokkan di perut, punggung....)
Saya jadi teringat, dulu waktu masih kecil, kayaknya belum sekolah, tapi masih terekam jelas di ingatan saya,  kakak perempuan saya pernah panas sehingga dia tidak ke sekolah. Ibu saya menggosok bawang merah tunggal di dahinya.
Ketika kejadian Wilda ini saya laporkan pada ibu saya juga saya ingatkan kejadian masa kecil dulu itu, ibu saya malah tertawa terbahak-bahak... "kok tumben kamu bisa ingat.., mama malah sudah lupa." katanya.


Eh, dari berbagai sumber saya peroleh bahwa bawang merah mengandung Minyak atsiri, sikloaliin, metilaliin, dihidroaliin, flavonglikosida, kuersetin, saponin, peptida, fitohormon, vitamin, dan zat pati. Kandungan flavonglikosida dianggap sebagai anti radang, pembunuh bakteri. Sedang kandungan saponinnya mengencerkan dahak. Ia juga memiliki sejumlah zat lain yang berkhasiat menurunkan panas, muntah-muntah,
menghangatkan, memudahkan pengeluaran angin dari perut, melancarkan pengeluaran air seni, mencegah penggumpalan darah, menurunkan kolesterol, dan kadar gula dalam darah.

Demikianlah cerita tentang si bawang merah ini (Allium Sativa L.)..


1 komentar:

  1. ilmu dari jaman dulu ya tapi masih tetap banyak yg menggunakan

    BalasHapus