Tanggal
14 April yang lalu, kota kecil kami ini dikunjungi oleh Menteri Kesehatan RI,
Ibu dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH. Meski saya
tidak ikut menyaksikan kedatangan beliau, sekilas lewat cerita seorang teman
yang berkesempatan menyaksikannya, mengatakan bahwa kedatangan beliau salah
satunya adalah dalam rangka menyerahkan sebuah alat yang bernama GeneXpert
kepada pihak RSUD Kabupaten Sorong. Alat ini merupakan bantuan dari Global
Fund ATM.
![]() |
sumber |
![]() |
Foto Dok. Suroso |
Karena baru pertama kali
mendengar tentang alat ini, saya jadi bertanya-tanya, apa sih fungsi dari alat
tersebut. Ternyata GeneXpert adalah sebuah alat tes diagnostik cepat bagi
penyakit Tuberculosis. Alat ini sangat modern dan jauh lebih akurat
dibandingkan dengan metode konvensional selama ini yang memeriksa sputum/ dahak
melalui mikroskop, karena kemampuannya untuk langsung meneliti dan mengurai DNA
bakteri. Selain itu pula, dengan alat ini akan langsung mampu mendeteksi
bakteri Tuberkulosis yang resisten terhadap Rifampicin.
![]() |
Alat GeneXpert yang diterima RSUD Kab. Sorong Foto dok. Sarlotha |
Selama ini dengan terjadinya resistensi
terhadap obat TB, maka berbagai ilmuwan mencoba mencari berbagai cara untuk
mempersingkat waktu pemeriksaan dahak pasien untuk mengetahui apakah pasien
tersebut termasuk dalam TB-MDR. Secara konvensional, pada awalnya dilakukan
pengembangbiakan terhadap bakteri tersebut, diberi makanan, dijaga suhu dan
kelembapannya, intinya bakteri tersebut ditumbuhkan, dan prosesnya memakan
waktu sekitar 2 bulan. Itupun belum tentu bakterinya hidup, jika hidup barulah
dilakukan uji resistensi obat terhadap Rifampicin. Nah, bisa dibayangkan betapa
lamanya seorang pasien harus menunggu untuk mengetahui apakah bakteri TBnya
kebal terhadap obat Anti Tuberkulosis. Namun ternyata dengan adanya alat
GeneXpert ini dengan mudah mempersingkat waktu tersebut hingga hanya kurang
lebih 2 jam saja. Berdasarkan hasil pemeriksaan lewat GeneXpert ini maka dapat
dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1.
Pada hasil pemeriksaan bila ditemukan Bakteri
Tuberkulosis dan terjadi resistensi Rifampisin, maka akan dilakukan pengobatan
TB-MDR
2.
Pada hasil pemeriksaan bila ditemukan Bakteri
Tuberkulosis tapi tidak terjadi resistensi Rifampisin, maka pasien masih bisa
diobati dengan pengobatan kategori 1 dan 2
3.
Pada hasil pemeriksaan bila Tidak ditemukan
Bakteri Tuberkulosis, maka tidak perlu dilakukan pengobatan TB.
Eh, tapi ngomong-ngomong tentang
TB-MDR ataupun TB resisten obat, seperti apa sih maksudnya?
Sebuah contoh kasus, teman kerja saya Suroso, seorang petugas TB di Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong menceritakan tentang seorang pasien yang berobat di salah satu Puskesmas wilayah kami. Pasien tersebut sudah diperiksa BTA+, dan kemudian menjalani pengobatan OAT Kategori I selama 6 bulan. Setelah tuntas berobat dilakukan lagi pemeriksaan dahak dan ternyata beliau masih BTA+. Maka diulangi lagi pengobatannya dengan OAT Kategori II. Namun setelah 8 bulan kemudian diperiksa lagi dahaknya ternyata masih juga BTA+. Kondisi pasien sendiri kadang menjadi lemah, kadang pula berangsur baik. Dari pihak Puskesmas disarankan untuk rujuk ke Makassar agar dapat diuji kultur. Sayangnya karena tidak ada biaya, pasien tersebut tidak dapat pergi dan akhirnya meninggal.
Dalam kasus tersebut disimpulkan bahwa pasien tersebut mengalami TB yang sudah resisten terhadap obat TB. TB resisten OAT adalah TB yang disebabkan oleh kuman TB yang telah resisten terhadap sekurang-kurangnya 2 jenis OAT lini pertama yaitu INH dan Rifampicin. Penatalaksanaan TB resisten OAT ini lebih sulit dan membutuhkan masa pengobatan yang lebih lama.
Munculnya
kekebalan terhadap obat dalam pengobatan TB merupakan masalah yang cukup besar.
Kekebalan terhadap obat ini berkaitan erat dengan pengobatan sebelumnya, pada
pasien yang pernah diobati, kemungkinan kekebalannya adalah 4 kali.
Faktor utama penyebab terjadinya resistensi kuman terhadap OAT adalah pengobatan yang tidak memadai dalam hal ini kemungkinan besar karena faktor manusia di mana penatalaksanaan pasien TB yang kurang tepat misalnya :
1. Petugas kesehatan, meliputi :
-
Diagnosa tidak tepat
-
Paduan, dosis, jenis, jumlah obat dan jangka
waktu pengobatan yang tidak tepat
-
Komunikasi, informasi, dan edukasi yang
diberikan pada pasien kurang jelas
2.
Pasien dan keluarga yakni :
-
Tidak mematuhi anjuran dari petugas kesehatan
-
Tidak teratur dalam mengkonsumsi obat
-
Menghentikan pengobatan secara sepihak sebelum
waktu yang telah ditentukan
-
Adanya gangguan dalam penyerapan obat
3.
Program pengendalian TB itu sendiri :
-
Persediaan OAT yang kurang
-
OAT yang disediakan kualitasnya rendah
Ada lima jenis kategori untuk
resistensi terhadap Obat TB :
1. Monoresisten
: Resistensi terhadap salah satu OAT, misalnya hanya terhadap INH saja atau
terhadap Rifampicin saja, dan lain sebagainya.
2. Polyresisten
: Resistensi terhadap lebih dari
satu OAT
3. Multi
Drug Resisten (MDR) : Resistensi terhadap sekurang-kurangnya INH dan
Rifampicin, secara bersamaan juga dengan atau tanpa OAT lini pertama yang lain.
4. Extensif
Drug Resisten (XDR),terdiri dari :
TB MDR disertai resistensi terhadap salah satu obat golongan
florokuinolon dan salah satu dari OAT injeksi lini kedua.
5. Total
Drug Resisten (Total DR) : Resistensi terhadap semua OAT (lini pertama dan lini
kedua)
Ada beberapa hal yang menjadi kriteria bagi pasien untuk menjadi suspek TB resisten OAT, diantaranya yakni kasus TB yang sudah kronik, gagal pengobatan kategori 2, pasien dengan riwayat OAT baik lini pertama maupun lini kedua, gagal pengobatan kategori 1, pasien dengan pemeriksaan BTA + setelah pengobatan sisipan, pasien kambuh, pasien pengobatan ulang setelahlalai pengobatan (default), pasien TB dan petugas yang kontak erat dengan pasien TB reisten OAT, dan pasien koinfeksi TB_HIV.
Seperti disebutkan di atas, TB – MDR ini terjadi karena bakteri TB yakni Mycobacterium Tuberculosis resisten terhadap Isoniazid (INH) dan Rifampicin dengan atau tanpa resisten obat lainnya. Secara mikrobiologi resistensi disebabkan oleh mutasi genetik dan hal ini membuat obat tidak efektif melawan basil mutan. Mutasi terjadi secara spontan dan berdiri sendiri menghasilkan resistensi OAT.
Kemungkinan seorang pasien mengalami resisten obat TB dapat didiagnosa dengan cepat dengan mempertimbangkan beberapa kriteria di atas. Dan tentu saja cara cepat mengetahuinya adalah dengan menggunakan alat GeneXpert itu di atas. Penting sekali untuk mengetahui pasien mengalami TB-MDR atau tidak karena seperti contoh kasus di atas, jika telah diketahui secara pasti, tentu dapat diambil langkah-langkah terapi yang lebih efektif untuk mencapai keberhasilan terapi itu sendiri. Selain itu resistensi obat TB juga dapat menular melalui udara dari penderita kepada bukan penderita.
Strategi Pengobatan Pasien TB-MDR
Sebelum pengobatan dimulai, harus
dipastikan bahwa diagnosis awal telah ditegakkan sebagai pasien TB-MDR. Setelah
itu dilakukan persiapan awal meliputi pemeriksaan penunjang yang berfungsi
untuk mengetahui data awal berbagai fungsi organ. Dalam hal ini dilakukan
pemeriksaan fisik, kejiwaan, pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan dahak,
darah, tes kehamilan dan lain-lain. Dan dipersiapkan juga seorang PMO (Pengawas
Minum Obat) yang berasal dari petugas kesehatan yang sudah terlatih.
Pengobatan pasien TB MDR
menggunakan paduan OAT yang terdiri dari OAT lini pertama dan lini kedua, yang
di bagi atas 5 kelompok berdasarkan potensi dan efikasinya, yaitu :
Golongan 1 ; Obat Lini Pertama
·
Isoniazid
·
Rifampiicin
·
Ethambutol
·
Pirazinamid
·
Streptomicin
Golongan 2 ; Obat suntik lini
kedua
·
Kanamisin
·
Amikasin
·
Kapreomisin
Golongan 3 ; Golongan
Florokuinolone
·
Levofloksasin
·
Moksifloksasin
·
Ofloksasin
Golongan 4 ; Obat bakteriostatik
lini kedua
·
Etionamid
·
Protionamid
·
Sikloserin
·
Terizidon
·
Paraaminosalisilat
Golongan 5 ; Obat yang belum terbukti
efikasinya dan belum direkomendasikan oleh WHO
·
Clofazimin
·
Linezolid
·
Amoksisilin/ Asam Kalvulanat
·
Clarithromisin
·
Imipenem
Untuk saat ini pilihan paduan OAT
TB MDR adalah paduan terstandar, yang pada permulaan permulaan pengobatan akan
diberikan sama kepada pasien TB MDR. Adapaun paduan obat yang diberikan
tersebut adalah :
Km – Eto – Lfx – Cs – Z-(E) / Eto – Lfx – Cs – Z-(E)
Kanamisin – Etionamid – Levofloksazin – Sikloserin –
Pirazinamid – (Ethambutol) / Etionamid – Levofloksazin – Sikloserin - Pirazinamid
– (Ethambutol)
Pemberian obat ini diberikan dalam dua
tahap yakni tahap awal dan tahap lanjutan. Tahap awal adalah tahap pemberian
suntikan dengan lama paling sedikit 6 bulan. Tahap lanjutan adalah pemberian
OAT tanpa suntuikan setelah menyelesaikan tahap awal. Ethambutol tidak
diberikan jika terbukti sudah resisten.
Pada fase awal obat ditelan secara
oral setiap hari, dan suntikan diberikan 5 hari dalam seminggu. Pada fase
lanjutan obat oral ditelan selama 6 hari dalam seminggu. Dosisnya diberikan
berdasarkan berat badan pasien. Obatnya sendiri akan disediakan dalam bentuk
paket. Selain OAT, diberikan pula nutrisi tambahan berupa protein, mineral dan
vitamin.
Lama pengobatan seluruhnya tahap awal
dan tahap lanjutan paling sedikit adalah 18 bulan setelah konversi biakan.
Cukup lama juga bukan. Oleh karena itu pasien benar-benar harus teratur
mengikuti pengobatan, dan karenanya PMO sangat penting untuk menjamin pasien
menyelesaikan setiap tahapan pengobatan dengan benar.
Mencegah TB Resisten Obat
Dengan rumitnya akibat yang timbul
jika pasien mengalami TB resisten obat ataupun TB – MDR, maka perlu
langkah-langkah dalam mencegah terjadinya hal tersebut. Kunci utamanya adalah
dengan mendiagnosis secara dini setiap terduga resisten obat dan dilanjutkan
dengan pengobatan lini kedua sesuai standar. Pengobatan harus terus dipantau kepatuhan
pasien hingga pengobatan tuntas. Pengobatan TB harus dilaksanakan sesuai dengan
standar, terutama dalam hal paduan pengobatan, lamanya pengobatan, dan cara
pemberian obat. Semua harus dikontrol dengan baik. Kemudian dalam rangka
mencegah penularan TB – MDR maka setiap fasilitas pelayanan kesehatan harus
melakukan pencegahan dan pengendalian infeksi secara tepat bagi setiap pasien
TB – MDR, terutama juga pada keluarga pasien termasuk menjaga lingkungan tempat
tinggalnya.
Dan yang paling penting tentunya
adalah dengan mengikuti penatalaksanaan dalam pengobatan TB dengan tepat dan
tuntas. Dengan menghindari faktor-faktor pencetus TB Resisten Obat tentunya
dapat mencegah terjadinya TB Resisten Obat tersebut.
Lewat
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2013, tentang
Pedoman Manajemen Terpadu Pengendalian Tuberkulosis Resisten Obat telah
ditetapkan sebuah Pedoman yang harus
dijadikan acuan bagi tenaga kesehatan dalam penyelenggaraan pengendalian
Tuberkulosis Resisten Obat. Dengan pedoman tersebut diharapkan agar
Tuberkulosis Resisten Obat dapat ditangani secara tepat dan mampu mengurangi
kasus yang terjadi di negara kita.
Penerapan Manajemen Terpadu
Pengendalian TB Resisten Obat menggunakan kerangka kerja yang sama dengan
strategi DOTS. Dengan penanganan pasien TB Resisten Obat secara benar maka akan
mendukung tercapainya tujuan dari Program Pengendalian TB Nasional.
Sumber :
- http://www.tbindonesia.or.id/tb-mdr/
- www.depkes.go.id
- http://www.ppti.info/2010/07/mekanisme-dan-diagnosis-multidrug.html
- http://www.ikaapda.com/resources/PAI/Reading/PENATALAKSANAAN-TUBERCULOSIS-DENGAN-RESISTENSI-OBAT-ANTI-TUBERCULOSIS.pdf
- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 13 Tahun 2013
lengkap sekali tulisannya, mak
BalasHapussemoga sukses ya
Makasih Mak.... :)
HapusSemoga alatnya dapat dimanfaatkan secara maksimal. Semangaaaat....
BalasHapusYuup....... Katanya para petugasnya lagi belajar menggunakan alat tersebut.
HapusSemangaaat.............
kapan alatnya akan diberikan merata ke puskesmas2 ya ?
Hapus