Selasa, 02 Oktober 2012

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

(sumber)


Tawuran lagi..
Miris rasanya melihat berita di tv belakangan ini yang selalu menayangkan tentang berita tawuran anak SMU 6 dan SMU 70. Kasihan sekali bahkan ada yang menjadi korban.  Entah bagaimana perasaan sang orang tua. Anak yang mereka besarkan dengan susah payah harus pergi dengan cara naas seperti itu. Saya sendiri bingung, apa yang ada dalam pikiran para remaja itu. Emosi sesaat…? Fase pertumbuhan..?  Jiwa yang masih labil..?
Penyelesaian masalah, pencabutan kepsek, relokasi sekolah., dan lain sebagainya.. Apakah benar itu semua akan menyelesaikan semuanya dan ada jaminan anak- anak itu takkan mengulangi lagi perbuatannya?
Masalah tawuran, saya ingat 10 eh 11, eh ternyata sudah 12 tahun yang lalu waktu saya SMU… (sudah lama sekali ya rupanya..) Meskipun sudah lama, namun saat itu namanya sudah SMU bukan SMA..
Ceritanya, kami sudah kelas  III dan sudah mendekati ujian akhir. Karena ujian sudah dekat, maka berbagai les-les tambahan harus kami ikuti demi mempersiapkan diri dengan ujian yang begitu mendebarkan apalagi dengan kata-kata ujian kali ini menggunakan  ‘sistem komputer’  terasa begitu menyeramkan buat kami para siswa di sekolah swasta di sebuah kabupaten kecil. Tentu begitu berbeda jika dibandingkan dengan siswa-siswa dari kota besar yang setiap hari berhadapan dengan benda itu seperti berhadapan dengan televisi, sementara kami yang masih tertatih-tatih memegang mouse,  begitu takut menyentuh keyboard, mengucapkan enter,  turn off, dan lain sebagainya…  ditimpali dengan pukulan mistar kayu panjang sang guru kalau salah memasukkan disket besar itu.
Ah,lupakanlah masa memalukan itu. Yang ingin saya ceritakan ada sedikit hubungannya dengan tawuran. Nah, sore itu kami sedang les tambahan. Namun karena ada pertandingan bola antar sekolah, dan kebetulan sekolah kami yang sedang bertanding, kamipun sepakat membatalkan les, dan menonton pertandingan di lapangan Kodim yang tidak begitu jauh dari sekolah kami. Karena hujan baru saja reda, kondisi lapangan sangat becek, apalagi di pinggir lapangan banyak air tergenang.  Namun itu tidak mengurangi kegembiraan kami untuk terus menyoraki tim sepakbola sekolah kami. Dan akhirnya … (saya lupa skor akhir pertandingan) sekolah kami memenangkan pertandingan itu. Saking gembiranya, seorang adik kelas menciprat-cipratkan genangan air itu ke arah kami sebagai tanda suka citanya. Sayang sekali ada seorang anak dari sekolah lain yang kebetulan lewat dan terkena cipratan air kotor itu dan dia tidak menerima dengan baik akan hal itu. Dia begitu marahnya dan melontarkan ancaman ke arah adik kelas itu. Namun karena di anggap bercanda, sang adik kelas  setelah meminta maaf berulang kali tidak begitu mengindahkan ancaman itu. Namun rupanya ancaman itu bukanlah ancaman main-main.  Ketika pertandingan usai dan para penonton membubarkan diri  satu per satu,  di sebuah lorong tidak jauh dari situ si anak sekolah lain itu rupanya sudah menunggu, dan begitu adik kelas kami itu lewat dia langsung menikamkan sebilah badik ke perut adik itu. Dan ini benar-benar tikaman yang mematikan, karena hanya dalam hitungan menit saja adik kelas kami itu menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit. Saat kejadian itu berlangsung, tidak ada yang memperhatikan karena semua sedang merasa bersuka cita atas kemenangan tim. Menurut cerita teman-teman, adik itu mengangkat bajunya dan memperlihatkan badik di perutnya sambil berkata kalau dia terkena.. dan .. saya tak tahu kelanjutannya, entah bagaimana si penikam di tangkap polisi..
Tidak tahu apa yang ada dalam pikiran anak yang menikam itu.. Sama seperti alasan-alasan di atas, apakah ini semata karena kondisi jiwa yang masih labil, perasaan telah dilecehkan, ataukah memang dia punya bakat seorang penjahat (untuk apa pula dia membawa-bawa badik kalau cuma mau nonton pertandingan bola), entahlah  motif mana yang melatarbelakanginya..
Nasib anak yang sudah berubah jadi pembunuh itu belakangan kami ketahui dia meninggal juga dalam penjara. Entahlah, saya tidak bisa bilang itu adalah pembalasan setimpal baginya karena pembalasan bukanlah di tangan kita juga kita tidaklah punya kewenangan menyatakan suatu hal sebagai pembalasan setimpal. Namun lewat peristiwa ini sempat memutar haluan cita-cita saya dari seorang guru menjadi seorang psikolog. Saya berfikir alangkah bahagianya seandainya ada yang mampu mempengaruhi pikiran seseorang dari negative menjadi berfikir bahkan bertindak positif dalam hidupnya. Membawa perubahan yang baik dalam hidup seseorang tentulah suatu hal yang sangat berguna. Sayangnya cita-cita tinggallah cita-cita. Saya tak pernah mengenyam pendidikan psikologi dan juga bahkan tak pernah menjadi seorang guru.  :)
Nah, kembali lagi ke tawuran di atas, mungkin yang terbaik menghindarinya adalah orang tua jelas harus memiliki tanggung jawab terhadap anaknya. Pendidikan anak sedari kecil di rumah jelas memiliki pengaruh besar untuk tumbuh kembang si anak...  Keluarga adalah orang-orang terdekat yang memegang peranan penting. Meski kadang-kadang pula latar belakang keluarga "broken home" sering menjadi alasan seorang anak untuk berkelahi. Tidak menemukan kenyamanan dalam keluarga sendiri akan membuat si anak mencari kenyamanan di luar rumah. Nah, sebelum itu terjadi hendaklah kita cegah dengan menimbulkan suasana yang aman dan nyaman dalam rumah sendiri. Bukan berarti kita tidak boleh membebaskan anak untuk keluar rumah, boleh-boleh saja anak bergaul dengan teman-temannya namun dengan pengawasan dari orang tua. Selain itu sekolah tentu juga memegang peranan besar. Dulu, jaman saya sekolah ada yang namanya guru BP.. (eh, sekarang masih ada gak ya?) Begitu mendengar ada yang dapat panggilan ke guru BP, semua langsung celingak-celinguk ngintipin yang lagi di sidang di ruang BP. Mendapat panggilan guru BP berarti jelas telah melakukan suatu pelanggaran. Saat itu kami nggak ngerti kalau guru BP adalah guru yang akan memberikan bimbingan bagi para siswa lebih ke arah psikologi siswa... Nah, guru BP boleh tuh diaktifkan. Kalau perlu para guru BP digembleng dulu sama Kak Seto hehehe....
Mengarahkan anak untuk mengikuti kegiatan-kegiatan positif tentu juga bisa bermanfaat. Asal jangan pernah memaksa si anak. Saya pernah ketemu anak teman saya, dia masih SD, kebetulan lagi ikut les bimbingan belajar di sebelah rumah saya.
Saya : " eh Adit (bukan nama asli ya)... ikut les juga ya?"
Adit  : " iya kak..."
          sebelum sempat saya komentarin, eh dia sudah ngomong duluan 
           " sebenarnya Adit malas kak, cuma mama yang paksa sih... , saya maunya main bola saja..."
Saya : ngebujuk-bujuk si Adit " itu kan mama mau supaya Adit pintar.."
Adit  : " tapi kan teman-teman lain gak ikut les juga pintar kok..."
Saya : bingung mau ngomong apa lagi :)

Yang terakhir menurut saya dan yang cukup penting adalah dengan pendekatan keagamaan. Kalau yang Muslim mungkin di sebut Remaja Mesjid, kami di Nasrani punya kegiatan Sekolah Minggu. Dan di Papua sini ada pula ibadah yang dilakukan khusus anak-anak dan remaja di hari-hari lain selain hari Minggu. Mengingatkan anak untuk tetap ikut dalam persekutuan tentu akan menjauhkan anak dari pengaruh negatif lingkungannya. 



Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu:
Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran



12 komentar:

  1. postingannya tema tawuran nih sekalian aja kasih tips mencegah tawuran trus ikutin kontes di http://tamanblogger.com/blogging/konteskuis/kontes-unggulan-indonesia-bersatu-cara-mencegah-dan-menanggulangi-tawuran
    siapa tau berminat

    BalasHapus
  2. wahh.. ada ya kontesnya... (Gak tau nih hehehe..)
    Makasih infonya Mbak Lidya ya...

    BalasHapus
  3. Ngedit dulu ah, sekalian daftar kontes... :)

    BalasHapus
  4. Terima kasih atas partisipasi sahabat.
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. T'rima kasih juga...
      Salam dari Papua :)

      Hapus
  5. semoga budaya tawuran segera hilang ya.. miris liatnya..

    BalasHapus
  6. Benar sekali, orangtua hendaknya mempunyai rasa tanggung jawab yang besar terhadap anaknya, di samping pendidikan di sekolah.

    Semoga sukses ngontesnya ya...

    BalasHapus
  7. Maaf sebelumnya... apakah cuma di komputer saya saja yang terlihat atau tidak, di beberapa paragraf terakhir pada postingan di atas tidak terbaca, cuma ada huruf-huruf dengan icon-icon tertentu. Sehingga, secara keseluruhan artikel ini tidak bisa saya baca.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahh.. tidak terbaca ya..? saya coba perbaiki dulu ya..

      Hapus
  8. Hari sumpah pemuda telah berlalu, komentarku untuk artikel di atas mengenai peristiwa tawuran yg melibatkan pemuda-pemudi berstatus pelajar pun kunjung datang,,

    Saya berharap hari peringatan sumpah pemuda ini dapat mengetuk para hati pemuda-pemudi di Indonesia (apapun statusnya)..

    BalasHapus