Selasa, 05 Maret 2013

Londa

Setelah mengunjungi Ke'te' Kesu' dan Tilanga', selanjutnya kami pergi ke Londa. Mengenai nama Londa ini, seringkali saya di tanya orang, apakah saya berasal dari Londa, karena nama belakang saya adalah Londa. Dan berulang kali pula saya jelaskan bahwa nama saya tak ada hubungannya dengan Londa objek wisata tapi itu adalah nama kakek saya yang akhirnya digunakan sebagai marga kami. Cukup sekian penjelasan saya titik.
#halah.. abaikan saja itu yang di atas...

Nah, Londa adalah sebuah tempat pemakaman tradisional yang cukup terkenal di Toraja. Bentuknya berupa gua batu, dan peti-peti mati diletakkan begitu saja di dalam gua. Ada pula yang di gantung di bagian atas. Di bagian depan gua bagian atas, kita di sambut dengan deretan patung (tau-tau).
Untuk memasuki gua ini, kita dapat menyewa lampu petromax seharga Rp. 25.000,- dan kalau ingin di temani oleh pembawa lampu (tour guide) yang sekalian akan menjelaskan tentang keadaan di dalam gua, cukup menambahkan biaya untuk si tour guide tersebut (harganya tidak di patok).
Memasuki gua yang gelap itu, kita harus berhati-hati karena kondisi gua yang lembab dan licin serta banyaknya tulang-belulang yang berserakan. Dulu saya pernah masuk hingga jauh ke dalam di mana kita harus jalan sambil duduk saking sempitnya lorong gua. Namun kali ini kami tak perlu masuk ke situ, selain karena cukup jauh, pun medannya sulit. Dan saya perhatikan sepertinya tidak ada lagi wisatawan yang masuk ke dalam mengeksplorasi daerah itu. Oh ya, di dalam gua ada sepasang tengkorak yang letaknya berdekatan dan menurut si tour guide, itu adalah sepasang kekasih yang bunuh diri karena cintanya tak direstui oleh karena mereka masih ada hubungan keluarga. Tragis juga ya...




pasangan kekasih yang tak direstui









hamparan sawah di depan gunung batu

liang-liang batu dari kejauhan

tau-tau




10 komentar:

  1. hadeeh.. serem ih, apalagi bacanya malem2 begini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bacanya siang2 aja kalo gitu.. :)

      Hapus
  2. Saya pernah nonton juga tentang sepasang kekasih yang bunuh diri itu, Mak. Tragis yah :(

    Waktu nonton itu, saat pembawa acara, kameramen, dan tour guidenya di gua, saya kok bertanya2, apa di gua itu gak bau mayat yah? Ato memang ada ramuan khusus yang dipakaikan ke mayat agar gak bau yah? *penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak bau sama sekali Mak. Memang betul mayat2 itu sebelum di kubur, di beri ramuan gitu biar awet. Soalnya orang Toraja ketika meninggal tidak langsung dikuburkan. Mayatnya di simpan dulu untuk menunggu upacara adat "rambu solo' " (upacara kematian). Untuk acara itu perlu biaya besar, apalagi jika yang meninggal kaum bangsawan. Bahkan kadang ada yang sampai berpuluh tahun di simpan dalam rumah menanti biaya yang cukup untuk terlaksananya pesta adat ataupun menanti keluarga besar bisa berkumpul.

      Hapus
  3. Duuh, pgn banget kesana, almost close padahal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naik bis dari Makassar 8-9 jam Mak. :)

      Hapus
  4. baru lihat gambar di blog aja udah serem, gmn klo langsung kesana ya, misteri juga ya guanya, klo bisa dicerita lebih detail lagi tentang adat dan penguburan di sana.

    BalasHapus
  5. nanya lagi ya, hehehe cerewet saya kumat, saya penasaran kenapa ya keranda2 itu diletak di gua, dan sampai kapan di letak disana. apa semua warga yang meninggal di letak dalam gua tersebut, trus apa ga berhantu gua tersebut jika di kunjungi, misal kesurupan, makasih (* penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, ceritanya gini Mak Lisa :
      Pada jaman dahulu kala... #eh
      gini lho , mayat2 yang sudah dimasukkan dalam peti mati itu kan di gantung. Semakin tinggi kedudukannya dalam masyarakat (waktu hidupnya) misalnya kaum bangsawan maka peti matinya akan ditempatkan (di gantung) lebih tinggi lagi. Nah, peti-peti itu kan umurnya sudah puluhan tahun bahkan mungkin saja ratusan tahun, tentu saja kayu akan lapuk di makan usia. Maka berjatuhanlah itu tulang-belulang ke tanah. Itu yang membuat banyaknya tulang dan tengkorak yang berserakan, baik di luar gua maupun di dalam. Trus kita nggak boleh sembarang memindahkan tengkorak atau tulang yang jatuh itu. Itu harus dengan upacara adat lagi yang tentunya memakan biaya besar.
      Tidak semua sih masyarakat di kubur di situ. Selain makam berbentuk gua, ada pula makam yang bentuknya menyerupai rumah (patane). Patane itu makam keluarga, jadi satu keluarga besar jika meninggal dimasukkan ke situ (ada pintu yang bisa di buka kalau mau memasukkan peti jenazah lagi).
      Trus keranda2 itu ya tetap di situ karena di situlah tempatnya (di situlah kuburannya).
      Kalau masalah berhantu apa nggak, saya juga kurang tahu, tapi sampai sekarang saya belum mendengar cerita kesurupan di situ. Atau mungkin ada tapi saya nggak tahu hehehe...

      Hapus