Sabtu, 20 April 2013

Prompt 10 : Kopi



Kembali dihirupnya minuman itu hingga hanya tersisa ampas hitam. Ah, sudah habis... Ide yang dinanti-nantinya bahkan belum juga muncul. Kembali dia melayangkan pikiran. Biasanya hanya butuh beberapa teguk hingga ide itu muncul, namun kali ini entah kenapa ide tak mau datang padanya. Sementara halaman  kerja dihadapannya masih bersih. Diketiknya sebuah kata, namun dengan cepat pula di hapus. Diketiknya kata lain, tapi kembali dia menekan tombol backspace.
Hufft... masih blank saja. Diliriknya ke sebelah. Wanita yang senantiasa menemaninya itu sudah tertidur. 
"Sialan!" makinya dalam hati. Dengan malas dia bangkit berdiri untuk membuat kopi sendiri. Tiba di meja makan, di angkatnya termos. Huhh.. lagi-lagi sial. Termospun tak berpihak padanya. Isinya sudah kosong. Terpaksa dia bergerak ke dapur untuk menjerang air. Sambil menanti air mendidih, disiapkannya cangkir beserta isinya. Dua sendok gula dengan 1 sendok kopi. Takaran favoritnya. Bau bubuk kopi menyusup masuk ke dalam hidungnya. Hmm, belum dituangi air panas  saja sudah wangi begini.
"Ah, kopi memang minuman para dewa," pikirnya. Dia teringat lagi pada masa-masa lalu, ketika dia masih sering berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Juga masa-masa ketika mereka mendaki gunung menikmati pemandangan alam sembari menghirup secangkir kopi. Tiba-tiba saja, *ting... "Yah-kenapa tak kutuliskan saja tentang ini," pikirnya.
Bergegas dia lari ke kamar dan segera duduk mengahadapi komputer tuanya. Dengan  kecepatan maksimal segera dipindahkannya segala sesuatu yang bertebaran di dalam kepalanya. Halaman kerja di depannya menjadi penuh dengan cepat. Namun masih saja dengan kesetanan dituliskannya segala hal yang terus berhamburan di dalam pikirannya.
"Api.... Api..." Terdengar teriakan dari depan jalan. Tak dihiraukannya, karena tangannya masih sibuk menari di atas tuts-tuts keyboard. 
"Yess... selesai!" pekiknya dengan penuh semangat. Namun si jago merah juga telah menuntaskan tugasnya.



18 komentar:

  1. ya ampuuunn, kebakaran! hati2 mbak, kalo bikin kopi tengah malem, hehe. bagus ceritanya, saya suka. tapi paragrafnya direnggangin lagi mbak, dikasih spasi gitu, biar lebih enak bacanya, ga dempet2. hehe. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe... makasih sarannya mbak..

      Hapus
  2. wah dapurnya habis terbakar dong...jadi ingat tetanggaku...dapurnya kebakar, hampir membakar rumah seluruhnya...btw, nice idea mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, lupa sama airnya sih tadi..
      Wah, kasian ya tetangganya mbak.

      Hapus
  3. Kopi hingga api, iiich seru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, jadi kepikiran mau ganti judul dengan kata2 Mak Astin.. :)

      Hapus
  4. emang klo lagi dapet ide nulis, semuanya bisa di cuekin ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup.. semoga nggak kejadian deh..

      Hapus
  5. mak, ada yg kurang logis nih.
    "Tiba di dapur, di angkatnya termos. Huhh.. lagi-lagi sial. Termospun tak berpihak padanya. Isinya sudah kosong. Terpaksa dia bergerak ke dapur untuk menjerang air."
    dia udah tiba di dapur ternyata termosnya kosong, terus ke dapur lg utk menjerang air? dapurnya ada dua? kalo dua, mbok dikasih tambahan gitu, dia ke dapur kotor atau dapur satunya lg.

    terus, tetnag api. emang dia ga nyium bau gosong,apa? aku sendiri pernah masak air di panci kecil utk bikin kopi, sampe kelupaan tp masih keciu bau gosong, dan pas aku ke dapur krn kaget nyium bau td, airnya udh abis, pantat panci jd item, p ga terjadi kebakaran. so, aku pikir, ini ceritanya msh belum bisa berterima. maaf, ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya, Makasih Mak...
      Hehe.. daku lupa mengedit, sempat memang kepikiran, tapi lupa lagi tentang dapurnya itu. Saya mau tulis meja makan tempat naruh termos, tapi lupa. :(

      Gitu ya, rupanya masak air nggak bisa kebakaran.. Hufft, cari ide lain deh...

      Hapus
    2. eh, ku edit, nggak pa2 kan Mak?

      Hapus
  6. Balasan
    1. hehe.. mesti banyak belajar lagi nih, :)

      Hapus
  7. bisa mbak. masak air bisa bikin kebakaran. asal airnya sampai habis, tekonya sampai gosong, melelh ke kompor, ke meja, lalu ke benda mudah terbakar di sekitarnya. tapi itu butuh waktu berjam-jam. dan ya, harusnya tercium bau gosong. entah sekonsen apa sang penulis sampai tidak menyadarinya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini si Penulis terlalu tenggelam kayaknya... sampai lupa dunia nyata.. :)

      Hapus
  8. Ide ceritanya menarik. Sesuatu yang dekat dengan kita. Endingnya juga saya suka.
    Tantangannya, menuliskannya tanpa menimbulkan kening berkerut itu yang susah hehehe... semangat yah Mak!

    BalasHapus