Minggu, 21 April 2013

Rasa Lokal (Local Flavour)


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri Minggu Kedua.


Selama hampir 7 tahun tinggal di Papua, ada begitu banyak hal baru yang saya temukan di sini. Logat yang unik, istilah-istilah yang kadang membingungkan, pun tentu saja makanan khas.
Di Papua, meski tingggal di pedalaman, namun hampir sebagian besar penduduknya pandai berbahasa Indonesia. Tentu saja mereka punya Bahasa Daerah, namun dalam kehidupan sehari-hari kebanyakan berbahasa Indonesia, apalagi di tempat-tempat umum. Istilah-istilah baru yang sempat membingungkan saya saat pertama kali menginjakkan kaki di sini misalnya menyebut taksi untuk angkot. Setahu saya kan taksi itu yang pake argo. Tapi ternyata semua angkot di sebut taksi. Kemudian contoh lainnya kata "menyimpan". Saya kira menyimpan itu seperti maksud dalam Bahasa Indonesia yakni meletakkan sebuah benda pada tempatnya. Padahal menyimpan yang di maksud adalah membersihkan, beres-beres, atau merapikan. Soalnya saya di suruh menyimpan rumah. Tentu saja saya bingung, di mana saya harus menyimpan rumah yang besar itu? Padahal yang dimaksudkan adalah membersihkan rumah... :) *duh...

Nah, itu baru istilah-istilah. Sebenarnya masih banyak lagi yang lain. Namun kali ini mari kita berpindah ke makanan. Di sini saya baru pertama kali mengenal yang namanya ikan asar. Ikan asar bukan nama sejenis species ikan. Tapi ikan asar adalah ikan yang diawetkan dengan cara di asapi. Jenis ikan yang digunakan adalah ikan tuna atau ikan cakalang. Jika sudah menjadi ikan asar maka rasanya menjadi lebih enak. Bisa langsung di makan, ataupun bisa di olah lagi. Saya sendiri belum berani memakan langsung, takut masih mentah, jadi di masak lagi. Biasanya di masak santan, atau juga di goreng kemudian di bikinin saos.

ikan asar




Ikan asar sebenarnya ada juga di daerah Maluku. Kalau di sini, di setiap pasar pasti ada yang jual. Seorang teman saya adalah penjual ikan asar. Dia bertutur kalau setiap hari harus berjuang bangun pukul 3 dini hari untuk membuat ikan asar untuk di jual di pasar pagi. Sorenya dia harus berjuang lagi mencari ikan mentah yang akan di jadikan ikan asar di pasar ikan. Sempat saya tanya, kenapa buat ikan asarnya subuh-subuh. Dia bilang, orang jelas lebih menyukai ikan asar yang masih hangat yang baru saja di buat. Oh ya, harganya beraneka ragam. Kadang-kadang jika ikan sedang mahal, maka harga ikan asar juga akan naik. Kemarin saya beli  seekor dengan harga 12 ribu rupiah ukuran sedang. Jika lagi mahal, ikan itu bisa saja berharga sampai 20 ribu hingga 30 ribu per ekor. Namun biar mahal begitu, teman saya bilang dagangannya selalu habis. Ini menunjukkan ikan asar jelas merupakan favorit masyarakat.

Selain ikan asar, tentu saja makanan khas di sini adalah sagu yang di oleh jadi papeda. Siapa tak kenal papeda? Di Sulawesi di sebut kapurung. Namun papeda berbeda dengan kapurung untuk penyajiannya. Papeda paling mantap di makan dengan ikan kuah kuning. Hmmm... jadi lapar.

Selain itu ada pula kebiasaan baru yang saya temukan di sini, yakni makan pinang. Kalau di kampung saya, yang makan pinang hanyalah orang-orang tua, namun di sini, mau tua, muda, anak-anak, semua makan pinang. Pinang di kunyah dengan buah sirih, dan kapur. Di mana-mana selalu terlihat mama - mama yang jualan pinang, karena pinang seakan menjadi kebutuhan utama. Bahkan seorang anak teman saya yang umurnya baru 2 tahun sudah belajar makan pinang. Saya sendiri pernah mencoba, rasanya sepat dan sedikit pedis. Karena makan pinang inilah, gigi mereka jadi kuat.

mama-mama jualan pinang (gambar dari sini)





16 komentar:

  1. aku baru tau nama ikan asar ini loh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya, baru ingat, kadang-kadang namanya ikan asap (karena di asapi)

      Hapus
  2. baru tau ikan asar ini..eh kayak tongkol ya mb ?

    BalasHapus
  3. mirip2 dengan Manado ya, kalo membersihkan rumah disebut "Manimpang", ada juga Cakalang Asap yang disebut Cakalang Fufu

    BalasHapus
  4. yang di mangkok bawah itu, ikan asap di bumbu santan ya?

    tampak lezat.

    kalo di jawa timur, biasa disebut ikan pe. Sama metode nya diasap juga. de sukkaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya..

      ikan pe..ikan asar.. saya juga sukaaaa.. :)

      Hapus
  5. di tempatku juga ada mbak ikan asar. tapi bilangnya ikan pe.. kaya kata masrafa.com :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. rupanya cuma beda nama ya.. ;)

      Hapus
  6. Saya suka ikan asap ... masak santan enak sekali. Kalo di kampungnya ayah saya (Soppeng) ada ikan gabus asap.

    Papeda ... iparku yang tinggal di Manokwari biasa cerita ttg papeda. Oya, sari buah merah ... mama Wilda tidak cerita itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya, lupa...
      Ada buah merah sama sarang semut yang terkenal sebagai obat..

      Hapus
  7. masuk ke daerah lain, sepertinya akan lebih asik kalo mereka tetap berbahasa daerah. belajar bahasa yang sama sekali berbeda lebih mudah daripada belajar bahasa yang sama kosa katanya tapi artinya lain.

    seperti aku pernah ke medan sempat bingung mendengar teman cerita habis nuntun kereta karena bannya bocor. aku pikir keren amat ban kereta api bocor lalu dituntun

    masuk banjarmasin sempat merinding bulu kuduk dibilang aku dicariin orang halus. ga taunya disini halus dipake untuk nyebut kecil.. :D

    indonesia memang kaya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hampir sama rupanya, di sini nyebut anak kecil sering di bilangin anak kacil alus...

      Hapus
  8. yg menyimpan rumah lucu juga hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau cuma menyimpan tas sih biasa.. tapi menyimpan rumah.. hadehhh.. bingung mau simpan di mana..?
      :D

      Hapus