Minggu, 10 Juli 2016

Kisah negeri di atas awan

Awal Mei lalu, saya sempat merasa apa yah istilahnya…? Sejenis sumringah alias awesome alias apalah begitu ketika melihat postingan seorang kawan di facebook dalam bentuk foto-foto saat ia mendarat di sebuah kampung nun jauh di Toraja sana. Kampung bernama Lolai itu seketika tiba-tiba menjadi terkenal. Apa sih penyebabnya? Ternyata hamparan awan yang membentang persis di  hadapan kita itu terlihat begitu indah sehingga disebut sebagai negeri di atas awan. 

foto dok. Ani La'lang


Lokasi paling pas untuk menyaksikan awan tersebut yakni di Tongkonan Lempe. Alkisah menurut ibu saya, tempat tersebut di beri nama Lempe sebab-musababnya yakni saat kita berada di tempat tersebut, kita cukup “mellempe” ke bawah dan kita dapat menyaksikan pemandangan kota Rantepao dari atas tempat tersebut. Perlu diketahui, Tongkonan Lempe sendiri adalah properti pribadi. 

Nah, apa yang terjadi kemudian. Itulah hebatnya media social. Dari seorang ke orang lain, lama kelamaan jadi bukit eh nggak maksudnya lama kelamaan tempat ini mulai terkenal. Alhasil banyak yang ingin selfa selfi cekrak cekrek kiri kanan biar gaul katanya, dan muncullah berbagai manusia entah dari penjuru dunia mana memenuhi kampung itu. Bahkan ada yang memasang tenda demi menanti gumpalan awan yang memang lebih nampak menawan saaat pagi hari.


Sampai di situ emang ada masalah ya?
Jelas masalah besar nih… tau gak? dimanapun manusia berada pasti meninggalkan sampah. Baguslah jika sampah itu dibawa pergi. Tapi apa yang terjadi di sini, puluhan dan mungkin ratusan manusia itu ternyata banyak yang gak nyadar. Segala tulisan seperti : Aku di sini loh, kapan kamu ke sini,,, atau hei si anu… dapat salam dari aku #lempelolai serta aneka tulisan gaul lainnya yang intinya menyatakan bahwa si aku sudah menginjak tempat ini, kertas-kertas tersebut berhamburan kiri kanan.





Saya jadi mikir-mikir…  Lolai sebenarnya tak asing buat saya sendiri. Meski saya lupa apa pernah menginjakkan kaki di situ, namun menurut ibunda saya tercinta, tentu saja pernah saat saya masih kecil dulu. Soalnya kampung ini adalah termasuk kampung halaman kami juga. Ibu saya menghabiskan beberapa tahun mengajar di sebuah sekolah di situ antara tahun 65 hingga 70an..  saat dia masih fresh graduate dari sebuah sekolah setara SMU sekarang ini di Palopo. Lolai sendiri beredekatan dengan kampung halaman ibu saya di Kallan. Kallan dan Lolai hampir sejajar, makanya pemandangan awan-awan yang membuat banyak orang berbondong-bondong itu tak asing lagi buat saya sampai membuat saya serta merta harus ke situ juga, (padahal nih ya mikir biaya.. gue di Papua mak…) Intinya saya pernah menyaksikan pemandangan serupa jika berkunjung di kampung ibu dan ayah saya, bahkan dulu saat mendaki gunung Sesean, pemandangan ini dapat pula dijumpai. Secara geografis, daerah Lolai termasuk dalam Kecamatan Kapala Pitu, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.  Jaraknya sekitar 40 km dari Rantepao. Untuk menuju ke sana bisa menggunakan 2 jalur, lewat Pemancar (ini istilah jaman dulu, entah apa masih kepake sekarang) dan lewat Sereale. Biasanya kalo ke Lolai orang akan lebih memilih lewat Pemancar. 


Cukup tentang Lolai.. mari kita kembali menuju ke masalah sampah. Kertas-kertas berisi tulisan gaul tadi (menurut mereka) akhirnya terserak seperti hamparan awan juga, padahal sudah disediakan tong sampah. Sang pemilik tongkonan mengeluh… tak hanya kertas… yang membuat miris, adalah banyaknya tambahan lukisan di batu-batu besar dan juga pohon-pohon yang ada di situ. Spidol non permanen yang kata salah seorang anak alay yang tertangkap tangan memegang spidol sambil foto buat lucu-lucuan yang lagi-lagi di batang pohon  itu sudah ditempel larangan dilarang mencoret-coret, menurut pengakuannya itu habis ditulisin dihapus pake tangan lagi (ini membuat saya penasaran juga, emang bisa ya tulisan di pohon kalo pake spidol non permanen hilang kalo diapus pake jari? trus saya cobalah di pohon kasbi karet yang sudah patah belakang rumahku, eh,, ternyata .. hasilnya eng ing eng….sayaa merasa ikut bodoh hahaha….)








Ah… memang aneh… tentunya  dia yang kebetulan sial fotonya beredar rame di medsos sebagai pelaku vandalisme yg membuat dia dan keluarganya jadi resah dan gelisah dengan bullyan masyarakat medsos, jelas masih banyak tangan-tangan usil lainnya yang membuat batu dan pohon jadi penuh lukisan. Tapi intinya… menulislah pada tempatnya, buanglah sampah pada tempatnya. Toh itu pelajaran dari SD dan begitu sering kita temukan sebagai iklan layanan masyarakat di mana-mana. Ayooo.. buktikan dirimu bukan generasi nyampah. 
Buang sampah di tempat sampah,
Menulislah pada tempatnya.
Ayo ngeblog…. 


(dan kemudian ngintip isi blog yang ternyata lama tak ditulisi.. maapkeuunnnn….)


Cat : mellempe = melongok alias menengok dikit...
Pembersihan sampah sudah pernah dilakukan oleh beberapa ormas.... salah satunya di video ini : 

4 komentar:

  1. Sayang banget ya, soal perilaku suka buang sampah sembarangan ini :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. padahal sudah disediakan tong sampah... :(

      Hapus
  2. yang seperti ini memang harus diajarkan sejak dini. sejak masih bocah. malah kalau bisa anak kita diajarkan sebagai orang yang mengadvokasi agar buang sampah pada tempatnya.. hihihi

    BalasHapus
  3. pengin banget bisa liburan kesini
    tapi takut, katanya banyak jurangnya

    BalasHapus